Minggu, 02 Maret 2014

KULIT KAKAO SEBAGAI PAKAN TERNAK

KULIT KAKAO SEBAGAI PAKAN TERNAK

 

 

 

 

 

 

 Kulit kakao merupakan limbah pada perkebunan rakyat yang selalu berlimpah dan belum dikelola secara baik. Sebagian petani telah memanfaatkannya sebagai pakan ternak kambing. Seiring semakin meningkatnya usaha pengembangan ternak di Lampung perlu dicanangkan pemanfaatanya sebagai pakan ternak secara luas ditingkat petani, hal tersebut selain sebagai upaya antisipasi saat kekurangan sediaan pakan juga dapat meningkatkan bobot ternak (sapi Bali 358 gr/ekor/hr), menghemat tenaga kerja dalam penyediaan pakan hijauan sebesar 50% serta meningkatkan hasil dan bobot telur ayam.

Cara pemberian kulit buah kakao :
Pemberian dalam bentuk segar
- Cacah kulit kakao dengan ukuran panjang 5 cm dan lebaran 2 cm
- Berikan pada ternak kambing 2 - 3 kg/ekor/hr atau 70% dari jumlah pakan
- Tambahkan pakan hijauan sebanyak 30%
Manfaat fermentasi kulit buah kakao adalah :
- Meningkatkan daya cerna
- Menekan efek buruk racun theobromine pada kulit buah kakao
- Meningkatkan nilai gizi pakan
Proses fermentasi :
Bahan
- Kulit buah kakao basah 1 ton dengan kadar air 70%
- Probiotik starbio 3 kg
- Pupuk urea 6 kg
- Terpal plastik

Proses pembuatan :
- Cacah kulit buah kakao segar dengan ukuran 2 cm
- Keringkan kulit buah kakao di atas terpal plastik dengan penyinaran matahari selama 6 jam atau sampai kadar air 60%
- Kulit buah kakao difermentasi dengan menggunakan starbio + urea sesuai takaran lalu aduk secara merata
- Masukkan dalam karung plastik besar/terpal plastik kemudian diikat
- Setelah 2 minggu hasil fermentasi dibongkar kemudian keringkan dengan cara diangin-anginkan. Setelah kering baru digiling    dengan mesin penggiling tepung
- Pemberian pakan hasil fermentasi pada ternak dengan cara dicampur air ditambah konsentrat
 


Kulit buah kakao dapat dimanfaatkan sebagai substitusi suplemen 5 – 15% dari ransum pada ternak domba dan pada ternak sapi dapat meningkatkan Pertambahan Berat Badan Harian (PBBH) 0,9 kg/hari dengan diolah terlebih dahulu. Kulit buah kakao perlu difermentasi terlebih dahulu untuk menurunkan kadar lignin. Kulit kakao dapat diolah dengan cara dilakukan fermentasi terlebuh dahulu maupun tanpa perlakukan fermentasi. Yang dapat digunakan untuk proses fermentasi dapat menggunakan Aspergillus Niger. Dengan pertimbangan tersebut maka perlu dilakukan kajian tentang pemanfaatan kulit buah kakao sebagai bahan pakan bagi ternak.
Produk sampingan atau limbah dari buah kakao hampir sebagain besar berupa kulit buah kakao yang mencapai 74 % dari produk utama buah kakao. Tingginya persentase kulit buah kakao ini belum maksimal dimanfaatkan. Salah satu alternatif dalam pemanfaatan kulit buah kakao adalah dengan menjadikannya sebagai bahan pakan ternak baik ternak ruminansia maupun ternak unggas. Selain kuantitas yang banyak yang mencapai 36.000 ton/tahun, harganya relatif murah dan mudah didapat serta kandungan protein kasarnya cukup tinggi yang mencapai 10 %. Jika difermentasi dengan Aspergillus niger kadar proteinnya mencapai 16,60 %. Berdasarkan hasil analisa proksimat  kandungan protein kakao mencapai 22%. Berdasarkan analisa kimia, limbah kakao mengandung zat-zat makanan yang dapat dimanfaatkan untuk pakan. Kulit buah kakao mengandung 16,5% protein, 16,5 MJ/kg dan 9,8% lemak dan setelah dilakukan fermentasi kandungan protein meningkat menjadi 21,9%.
 

 
Rekomendasi pemberian kulit kakao :
Sapi  : pemberian 2 kg/ekor/hr + rumput alam ( bentuk segar dan fermentasi)
Kambing : 2-3 kg/ekor/hr dalam bentuk segar dan fermentasi
Ayam  : 22% tepung kakao pada ransum ayam  dalam bentuk tepung (fermentasi)
Sumber :BPTP Lampung

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar