Latar Belakang
Produksi kakao dunia pada saat ini + 3
juta ton per tahun. Lebih dari 70% dari produksi tersebut dihasilkan
oleh tiga negara penghasil utama, yaitu Pantai Gading, Ghana, dan
Indonesia. Indonesia sebagai produsen kakao ketiga di dunia mempunyai
kontribusi + 12% terhadap produksi dunia. Kakao merupakan salah
satu komoditas ekspor andalan penyumbang devisa bagi negara di sektor
non-migas dan sebagai sumber pendapatan utama bagi banyak petani,
terutama sejak terjadinya krisis ekonomi.
Perkebunan
kakao Indonesia mengalami perkembangan pesat sejak awal tahun 1980-an
dan pada tahun 2002, areal perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas
914.051 ha dimana sebagian besar (87,4%) dikelola oleh rakyat dan
selebihnya 6,0% perkebunan besar negara serta 6,7% perkebunan besar
swasta. Jenis tanaman kakao yang diusahakan sebagian besar adalah jenis
kakao lindak dengan sentra produksi utama adalah Sulawesi Selatan,
Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Disamping itu juga diusahakan
jenis kakao mulia oleh perkebunan besar negara di Jawa Timur dan Jawa
Tengah.
Keberhasilan
perluasan areal tersebut telah memberikan hasil nyata bagi peningkatan
pangsa pasar kakao Indonesia di kancah perkakaoan dunia. Indonesia
berhasil menempatkan diri sebagai produsen kakao terbesar kedua dunia
setelah Pantai Gading (Cote d’Ivoire) pada tahun 2002, walaupun
kembali tergeser ke posisi ketiga oleh Ghana pada tahun 2003.
Tergesernya posisi Indonesia tersebut salah satunya disebabkan oleh
makin mengganasnya serangan hama PBK. Di samping itu, perkakaoan
Indonesia dihadapkan pada beberapa permasalahan antara lain: mutu produk
yang masih rendah dan masih belum optimalnya pengembangan produk hilir
kakao. Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para
investor untuk mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih
besar dari agribisnis kakao. (Anonim, 2009)
Serangan
hama dan penyakit jika tidak dikelola dengan tepat maka akan
mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem. Selain dari itu, serangan
hama dan penyakit berdampak pada prokduktifitas dan kualitas standing stock
yang ada. Diantaranya adalah menurunkan rata-rata pertumbuhan, kualitas
kayu, menurunkan daya kecambah biji dan pada dampak yang besar akan
mempengaruhi pada kenampakan estetika hutan. (elqodar, 2008)
Pembahasan
Ada tiga jenis penyakit jamur akar pada tanaman kakao, yaitu: Penyakit jamur akar merah yang disebabkan Ganoderma philippii; Penyakit jamur akar coklat disebabkan Fomes lamaoensis( dan Penyakit jamur akar putih disebabkan Fomes lignosus.
Ketiganya menular melalui kontak akar, umumnya penyakit akar terjadi
pada pertanaman baru bekas hutan. Pembukaan lahan yang tidak sempurna,
karena banyak tunggul dan sisa-sisa akar sakit dari tanaman sebelumnya
tertinggal di dalam tanah akan menjadi sumber penyakit. Ketiga jenis
penyakit ini mempunyai gejala: daun menguning, layu dan gugur, kemudian
diikuti dengan kematian tanaman. Untuk mengetahui penyebabnya, harus
melalui pemeriksaan akar
Pencegahan
penyakit dilakukan dengan membongkar semua tunggul pada saat persiapan
lahan terutama yang terinfeksi jamur akar. Lubang bekas bongkaran diberi
150gr belerang dan dibiarkan minimal 6 bulan. Pada saat tanam diberi
100 gr Trichoderma sp. per lubang. Pada areal pertanaman, pohon
kakao yang terserang berat dibongkar sampai ke akarnya dan dibakar di
tempat itu juga. Lubang bekas bongkaran dibiarkan terkena sinar matahari
selama 1 tahun. Minimal 4 pohon di sekitarnya diberi Trichoderma sp.
200gr/pohon pada awal musim hujan dan diulang setiap 6 bulan sekali
sampai tidak ditemukan gejala penyakit akar di areal pertanaman kakao
tersebut. (Dadan, 2002).
![]() |
Akar tanaman kakao terserang jamur
akar coklat (Fomes lamaoensis)
Selain pencegahan diatas dapat pula dilakukan dengan membuat parit isolasi dengan lebar 30 cm kedalam 60-100 cm.
Pembuatan parit isolasi ini dimaksudkan untuk:
1. Mencegah
akar tanaman yang sakit bersentuhan dengan tanaman kakao yang sehat
sehingga penyebaran penyakit akar ini dapat ditekan.
2. Parit
isolasi ini juga berfungsi sebagai jalan masuknya sinar matahari.
Sehingga kelembaban di sekitar parit dapat dikurangi dengan adanaya
sinar matahari yang sampai kekedalaman parit isolasi.
3. Parit isolasi juga dapat sebagai saluran drainase agar areal bebas gengan air pada musim hujan
Tetapi
parit isolasi tidak efektif jika saat hujan turun karena air hujan
menggenang dan spora spora jamur akar akan berada digenangan dan akan
lebih parah lagi jika penyerapan air digenangan tidak secara lancar. Hal ini dapat menghanyutkan spora spora dan menjangkiti tanaman kakao yang sehat.
Agar parit isolasi dapat berfungsi dengan baik maka dilakukan pemeliharaan dengan cara:
1. Bersihkan parit dengan cangkul dari tanaman pengganggu, parit yang runtuh diperbaiki kembali dengan cangkul.
2. Dasar parit dibuat miring agar air dapat mengalir dengan lancar
3. Agar air dapat mengalir di parit perlu dilakukan penataan parit pada tanaman yang sakit
KESIMPULAN
1. Ada tiga jenis penyakit jamur akar pada tanaman kakao, yaitu: Penyakit jamur akar merah yang disebabkan Ganoderma philippii; Penyakit jamur akar coklat disebabkan Fomes lamaoensis dan Penyakit jamur akar putih disebabkan Fomes lignosus.
2. Menular
melalui kontak akar, umumnya penyakit akar terjadi pada pertanaman baru
bekas hutan. Pembukaan lahan yang tidak sempurna, karena banyak tunggul
dan sisa-sisa akar sakit dari tanaman sebelumnya tertinggal di dalam
tanah akan menjadi sumber penyakit.
3. Pembuatan
parit isolasi ini dimaksudkan untuk mencegah akar tanaman yang sakit
bersentuhan dengan tanaman kakao yang sehat, Parit isolasi ini juga
berfungsi sebagai jalan masuknya sinar matahari, Parit isolasi juga
dapat sebagai saluran drainase agar areal bebas gengan air pada musim
hujan
4. Parit isolasi tidak efektif jika saat hujan turun karena air hujan menggenang dan spora spora jamur akar akan berada digenangan
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Prospek dan arah pengembangan agribisnis: Kakao. http://www.litbang.deptan.go.id/special/komoditas/b4kakao. Diakses pada tanggal 4 November 2009
Elqodar. 2008. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Kehutanan. www.google.com. Diakses pada tanggal 18 Januari 2010
Hindayana,
Dadan. 2002. Musuh alami, hama dan penyakit tanaman kakao. Direktorat
Perlindungan Perkebunan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan
Departemen Pertanian. Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar