Rabu, 11 Desember 2013

Manfaat Parit Isolasi dalam Mengatasi Penyakit Jamur Akar

Latar Belakang
Produksi kakao dunia pada saat ini + 3 juta ton per tahun. Lebih dari 70% dari produksi tersebut dihasilkan oleh tiga negara penghasil utama, yaitu Pantai Gading, Ghana, dan Indonesia. Indonesia sebagai produsen kakao ketiga di dunia mempunyai kontribusi + 12% terhadap produksi dunia. Kakao merupakan salah satu komoditas ekspor andalan penyumbang devisa bagi negara di sektor non-migas dan sebagai sumber pendapatan utama bagi banyak petani, terutama sejak terjadinya krisis ekonomi.
Perkebunan kakao Indonesia mengalami perkembangan pesat sejak awal tahun 1980-an dan pada tahun 2002, areal perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 914.051 ha dimana sebagian besar (87,4%) dikelola oleh rakyat dan selebihnya 6,0% perkebunan besar negara serta 6,7% perkebunan besar swasta. Jenis tanaman kakao yang diusahakan sebagian besar adalah jenis kakao lindak dengan sentra produksi utama adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Disamping itu juga diusahakan jenis kakao mulia oleh perkebunan besar negara di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Keberhasilan perluasan areal tersebut telah memberikan hasil nyata bagi peningkatan pangsa pasar kakao Indonesia di kancah perkakaoan dunia. Indonesia berhasil menempatkan diri sebagai produsen kakao terbesar kedua dunia setelah Pantai Gading (Cote d’Ivoire) pada tahun 2002, walaupun kembali tergeser ke posisi ketiga oleh Ghana pada tahun 2003. Tergesernya posisi Indonesia tersebut salah satunya disebabkan oleh makin mengganasnya serangan hama PBK. Di samping itu, perkakaoan Indonesia dihadapkan pada beberapa permasalahan antara lain: mutu produk yang masih rendah dan masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao. Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor untuk mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih besar dari agribisnis kakao. (Anonim, 2009)
Serangan hama dan penyakit jika tidak dikelola dengan tepat maka akan mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem. Selain dari itu, serangan hama dan penyakit berdampak pada prokduktifitas dan kualitas standing stock yang ada. Diantaranya adalah menurunkan rata-rata pertumbuhan, kualitas kayu, menurunkan daya kecambah biji dan pada dampak yang besar akan mempengaruhi pada kenampakan estetika hutan. (elqodar, 2008)
Pembahasan
Ada tiga jenis penyakit jamur akar pada tanaman kakao, yaitu: Penyakit jamur akar merah yang disebabkan Ganoderma philippii; Penyakit jamur akar coklat disebabkan Fomes lamaoensis( dan Penyakit jamur akar putih disebabkan Fomes lignosus. Ketiganya menular melalui kontak akar, umumnya penyakit akar terjadi pada pertanaman baru bekas hutan. Pembukaan lahan yang tidak sempurna, karena banyak tunggul dan sisa-sisa akar sakit dari tanaman sebelumnya tertinggal di dalam tanah akan menjadi sumber penyakit. Ketiga jenis penyakit ini mempunyai gejala: daun menguning, layu dan gugur, kemudian diikuti dengan kematian tanaman. Untuk mengetahui penyebabnya, harus melalui pemeriksaan akar
Pencegahan penyakit dilakukan dengan membongkar semua tunggul pada saat persiapan lahan terutama yang terinfeksi jamur akar. Lubang bekas bongkaran diberi 150gr belerang dan dibiarkan minimal 6 bulan. Pada saat tanam diberi 100 gr Trichoderma sp. per lubang. Pada areal pertanaman, pohon kakao yang terserang berat dibongkar sampai ke akarnya dan dibakar di tempat itu juga. Lubang bekas bongkaran dibiarkan terkena sinar matahari selama 1 tahun. Minimal 4 pohon di sekitarnya diberi Trichoderma sp. 200gr/pohon pada awal musim hujan dan diulang setiap 6 bulan sekali sampai tidak ditemukan gejala penyakit akar di areal pertanaman kakao tersebut. (Dadan, 2002).



Akar tanaman kakao terserang jamur
akar coklat (Fomes lamaoensis)
Selain pencegahan diatas dapat pula dilakukan dengan membuat parit isolasi dengan lebar 30 cm kedalam 60-100 cm.
Pembuatan parit isolasi ini dimaksudkan untuk:
1. Mencegah akar tanaman yang sakit bersentuhan dengan tanaman kakao yang sehat sehingga penyebaran penyakit akar ini dapat ditekan.
2. Parit isolasi ini juga berfungsi sebagai jalan masuknya sinar matahari. Sehingga kelembaban di sekitar parit dapat dikurangi dengan adanaya sinar matahari yang sampai kekedalaman parit isolasi.
3. Parit isolasi juga dapat sebagai saluran drainase agar areal bebas gengan air pada musim hujan
Tetapi parit isolasi tidak efektif jika saat hujan turun karena air hujan menggenang dan spora spora jamur akar akan berada digenangan dan akan lebih parah lagi jika penyerapan air digenangan tidak secara lancar. Hal ini dapat menghanyutkan spora spora dan menjangkiti tanaman kakao yang sehat.
Agar parit isolasi dapat berfungsi dengan baik maka dilakukan pemeliharaan dengan cara:
1. Bersihkan parit dengan cangkul dari tanaman pengganggu, parit yang runtuh diperbaiki kembali dengan cangkul.
2. Dasar parit dibuat miring agar air dapat mengalir dengan lancar
3. Agar air dapat mengalir di parit perlu dilakukan penataan parit pada tanaman yang sakit
KESIMPULAN
1. Ada tiga jenis penyakit jamur akar pada tanaman kakao, yaitu: Penyakit jamur akar merah yang disebabkan Ganoderma philippii; Penyakit jamur akar coklat disebabkan Fomes lamaoensis dan Penyakit jamur akar putih disebabkan Fomes lignosus.
2. Menular melalui kontak akar, umumnya penyakit akar terjadi pada pertanaman baru bekas hutan. Pembukaan lahan yang tidak sempurna, karena banyak tunggul dan sisa-sisa akar sakit dari tanaman sebelumnya tertinggal di dalam tanah akan menjadi sumber penyakit.
3. Pembuatan parit isolasi ini dimaksudkan untuk mencegah akar tanaman yang sakit bersentuhan dengan tanaman kakao yang sehat, Parit isolasi ini juga berfungsi sebagai jalan masuknya sinar matahari, Parit isolasi juga dapat sebagai saluran drainase agar areal bebas gengan air pada musim hujan
4. Parit isolasi tidak efektif jika saat hujan turun karena air hujan menggenang dan spora spora jamur akar akan berada digenangan

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Prospek dan arah pengembangan agribisnis: Kakao. http://www.litbang.deptan.go.id/special/komoditas/b4kakao. Diakses pada tanggal 4 November 2009
Elqodar. 2008. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Kehutanan. www.google.com. Diakses pada tanggal 18 Januari 2010
Hindayana, Dadan. 2002. Musuh alami, hama dan penyakit tanaman kakao. Direktorat Perlindungan Perkebunan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan Departemen Pertanian. Jakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar