Rabu, 11 Desember 2013

PENGELOLAAN HAMA PADA TANAMAN KAKAO



PENGELOLAAN  HAMA PADA TANAMAN  KAKAO

Pengelolaan hama (hama dan penyakit) pada tanaman kakao dilaksanakan secara terpadu yang menitik beratkan pada “keseimbangan ekosistem” disuatu pertanaman sehingga mampu menekan populasi hama atau menekan kerusakan tanaman pada tingkat yang tidak merugikan. Sifat penerapan PHT adalah dinamik dan lentur sehingga perlu dilandasi oleh informasi dasar tentang ekosistem maupun sistem sosial ekonomi dari masing-masing kebun.

Perpaduan teknik atau taktik pengendalian yang optimal ditetapkan atas dasar pengetahuan informasi yang tepat tentang ekosistem pertanaman kakao di wilayah masing-masing.
Pelaksanaan  SPD  di pembibitan, dilakukan pengamatan setiap hari oleh mandor pembibitan yang terlatih. Hal – hal yang diamati adalah gejala serangan dan ada tidaknya individu hama yang menyerang bibit. Berdasarkan data pengamatan tersebut dapat segera diambil kesimpulan dan keputusan oleh sinder kebun untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan tindakan pengendalian serta menentukan metode yang akan digunakan. Untuk tindakan pencegahan dilakukan sterilisasi media tanam sebagai berikut :
-          Media tanaman sebelum digunakan perlu disterilisasi guna mematikan cendawan dan serangga pengganggu yang berada dalam media tersebut melalui fumigasi tanah.
-          Setelah media dicampur sampai rata, tiga minggu sebelum ditanami media disterilkan dengan menyiram Fungisida.
-          Selanjutnya media  ditutup dengan plastik dan dibiarkan selama tiga hari
-          Setelah dibiarkan selama tiga hari, plastik dibuka dan medium diaduk-aduk.
Hama merupakan organisme pengganggu tanaman yang disebabkan oelh serangga, tungau dan mamalia. Pengelolaan hama pada prinsipnya dilakukan melalui pendekatan ekologis, yaitu tindakan evaluasi dan penggabungan semua teknik pengendalian yang ada secara terpadu. Tujuannya adalah untuk mengelola populasi hama agar tidak terjadi kerusakan secara ekonomis yang bisa berpengaruh buruk terhadap lingkungan. Beberapa komponen tehnologi pengendalian yang dapat dipadukan antara lain adalah kultur tehnis, mekanis, biologis, pemanfaatan tanaman tahan dan komponen kimiawi. Komponen kimiawi merupakan pilihan terakhir yang dilakukan jika komponen lainnya tidak mampu membendung peledakan populasi hama. Pengendalian secara tepadu dilakukan dengan sistem peringatan dini (SPD).
2.        Beberapa jenis hama pada tanaman kakao dan cara pengendaliannya  :
 a.         Hellopelthis
    Gejala Serangan
  • Bekas tusukan Hellopeltis sp pada buah, tunas, tangkai daun, terlihat  bercak-bercak cekung berwarna hitam. Serangan baru bercak berwarna coklat muda
  • Pentil yang berukuran < 5 cm, jika terserang akan gugur sedangkan yang berukuran > 5 cm dapat gugur atau berkembang tetapi akan terjadi perubahan bentuk. Pada buah-buah tua serangan kurang berarti dalam menyebabkan kerusakan tetapi jika tidak dikendalikan dengan baik, buah-buah tererang tersebut dapat menjadi tempat untuk bertelur (terus menerus) dan pada saatnya menjadi sumber serangan pada buah-buah yang lain atau sumber serangan pada pucuk tanaman saat tanaman flush
  • Bercak-bercak pada tunas, tangkai daun, akan memanjang dan akhirnya tunas/daun layu kemudian mengering, tetapi daun yang mengering tetap melekat sampai batas waktu tertentu.
  • Tunas-tunas yang baru tumbuh dari akibat serangan terdahulu dapat terserang kembali apabila tidak dilakukan pengendalian secara cepat dan benar 
  • Pertumbuhan pohon merana, percabangan pendek-pendek dan bengkok-bengkok
  • Serangan yang terus menerus akan menyebabkan tanaman kakao meranting. Keadaan demikian membutuhkan waktu yang lama  serta biaya yang tinggi untuk pemulihannya
  • Pasca serangan pucuk umumnya diikuti dengan serangan Colletotricum sehingga pengendalian juga diarahkan pada penyakit tersebut.
Biologi Hama
  • Hellopeltis sp termasuk ordo Hemiptera, famili Capsidae
  • Ukuran tubuh serangga dewasa 6 – 7,5 mm dengan warna dasar hitam, thorak merah, abdomen hitam dengan strip putih
  • Imago ± 15 hari, jumlah telur yang dihasilkan selama hidupnya 80 – 235 butir, diletakkan secara berkelompok 2 – 8 butir perkelompok di dalam jaringan tanaman, biasanya diletakkan pada tangkai buah, jaringan kulit buah, tangkai daun muda atau ranting.
  • Telur menetas setelah 6 – 7 hari, ukuran telur 1,5 mm, bulat lonjong salah satu ujungnya terdapat 2 embelan berbentuk benang panjangnya ± 0,5mm antena yang tersembul keluar dari jaringan tanaman
  • Masa Nimfa 10 – 12 hari, 5 kali ganti kulit (lima instar), sejak instar pertama sudah menghisap cairan tanaman                       
  • Daur hidup Hellopeltis sp sangat dipengaruhi oleh ketinggian tempat, semakin tinggi tempat maka daur hidupnya semakin panjang.
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Hama
  • Perkembangan Hellopeltis sp sangat dipengaruhi oleh ketersediaan makanan dilapang, semakin banyak makanan perkembangannya akan semakin mengarah ke maksimum terlebih lagi jika disertai dengan banyaknya curah hujan
  • Dalam keadaan yang kurang menguntungkan Hellopeltis sp cenderung bertahan pada daerah-daerah lembah/curah yang memiliki iklim mikro yang cocok bagi perkembangannya. Daerah ini biasanya disebut daerah/sumber hama dimana jika keadaan mendukung Hellopeltis sp akan berkembang dan memencar dengan cepat
  • Intensitas serangan cenderung lebih tinggi pada daerah terbuka (kurang penaung) dibandingkan pada daerah yang fungsi penaungnya optimum walaupun kemungkinan padat populasinya tidak jauh berbeda
  • Hellopeltis aktif dipucuk tanaman terutama pada pagi hari kemudian turun kedalam tajuk atau bawah tajuk dan sering ke semak-semak menghindari sinar matahari langsung. Aktifitas paling rendah pada sore hari.
Tanaman Inang
  • Tanaman inang yang memungkinkan Hellopelis sp hidup dan berkembang menyelesaikan daur hidupnya antara lain : teh, kina, kapok, Albizzia moluccana, kayu manis, rambutan, Tephosia vogeli, Gardenia jasminoides, (kaca piring), Erectites stylosa (sintrong) dll.
Pengendalian Secara Mekanis
  • Dilakukan dengan menangkap Hellopeltis sp (nimfa, imago)
  • Pelaksanaannya dapat dilakukan bersama dengan pengamatan atau dengan tenaga khusus melalui sistim borongan sesuai kondisi setempat.
  • Menurunkan buah-buah cacat yang menjadi tempat peletakan telur.
Pengendalian Secara Kultur Teknis
  • Mengelola lingkungan agar tidak disukai Hellopeltis sp, dengan perlakuan seperti pangkasan, menghilangkan tanaman inang, dan mengendalikan gulma secara teratur. Melengkapi penaung sehingga dapat berfungsi optimum terutama di daerah-daerah yang hiaten
  • Pemupukan lengkap dan berimbang ditujukan untuk mencegah tanaman menjadi lemah
Pengendalian Secara Biologi
Pengendalian dengan menggunakan Semut Hitam (Dolichoderus thoraxicus) Penyebaran semut hitam dilakukan pada musim kemarau (Juni – Oktober) seiring dengan meningkatnya populasi kutu putih. Penyebaran dimulai dari areal yang tingkat serangan normal (< 8 %) selama ± 1 tahun dan areal di sekitar daerah semut. Cara penyebarannya sebagai berikut :
  • Buat sarang-sarang semut buatan dari daun kakao atau daun kelapa kering
  • Sarang buatan diletakkan pada cabang / ranting tanaman di areal semut hitam
  • Sementara menunggu sarang dihuni (3-4 minggu), areal yang direncanakan untuk pengembangan semut disiapkan. Semut-semut jenis lain yang merupakan pesaing (semut angkrang dll) dibunuh dengan insektisida piretroid sipermetrin (50 EC) konsentrasi sesuai hasil uji efikasi : 0,02 – 0,05 %
  • Untuk menarik semut hitam, dapat digunakan kutu putih diareal tersebut dengan cara memindahkan kutu putih dari kulit buah yang dipanen ke buah/kolven muda (yang belum akan dipanen) pada pohon-pohon diareal itu 
  • Sebagian sarang-sarang semut buatan yang telah dihuni (ditandai dengan adanya kroto) dipindahkan dari areal semut ke areal pengembangan. Sarang-sarang tersebut diikat pada cabang-cabang/ranting kakao. Lubang keluar semut diarahkan ke bawah untuk menghindari masuknya air. Sarang-sarang baru dibuat dan dipasang kembali di areal sumber semut untuk mengganti sarang yang dipindahkan ke areal pengembangan. 
  • Jika makanan alami  semut dirasa kurang, dapat dibantu dengan menyemprotkan larutan gula 10% ke kolven-kolven kakao atau kesarang-sarang semut tersebut 
  • Efektifitas optimum dalam mengendalikan Hellopeltis akan dicapai bila populasi semut sudah tinggi dan semut sering berkeliaran di kolven. Jumlah sarang per pohon kakao minimal 3 buah.                    
 Pengendalian dengan Beauveria bassiana
Jamur  Beauveria bassiana cukup efektif untuk mengendalikan Hellopeltis sp stadia imago. Penyemprotan dilakukan sore/malam hari dimana kelembaban kebun tinggi (> 90 %) dan pada musim hujan. Dosis B bassiana = 1-1,5 kg biakan padat/ha dengan volume semprot 500 l/ha/aplikasi. Penyemprotan menggunakan Knap Sack Sprayer  atau Mist Blower dengan volume semprot 200 ltr/ha.  Cara membuat larutan semprot sebagai berikut :
  • Siapkan 200 liter air bersih bebas bahan kimia dalam drum plastik
  • Tambahkan perata
  • Ambil air tersebut ± 30 liter pisahkan jadi 2 dalam ember plastik ber
  • B. Bassiana diremas-remas dengan kain kasa/kaos bersih dalam ember yang sudah diberi air dan perata, kemudian diaduk secara merata
  • Larutan siap digunakan dan harus habis pada hari itu juga
b.        PBK ( Conopomorpha cramerella )
-       Gejala Serangan
·      Menyerang buah-buah kakao yang masih muda (± 8 cm) sampai masak. Stadium yang menimbulkan kerusakan adalah stadium larva yang sejak keluar dari telur langsung menggerek dan hidup di dalam buah sampai menjelang berkepompong
·           Larva memakan daging buah dan saluran makanan yang menuju biji (tidak memakan biji)
·     Gejala serangan pada buah muda tidak tampak, buah tetap berkembang normal. Gejala serangan umumnya menunjukkan gejala belang kuning hijau, bila di guncang tidak berbunyi. Daging buah tampak berwarna hitam, biji saling lengket melekat satu sama lain, keriput dan ringan (mutu rendah)                          
                                 
-       Biologi
·     Imago berupa ngengat yang aktif malam hari, siang hari bersembunyi di balik daun, ranting atau cabang. Panjang tubuh 7 mm dan lebar 2 mm, tidak dapat terbang jauh tetapi mudah diterbangkan angin. Imago betina menghasilkan telur 50 – 100 butir
Telur berwarna jingga berbentuk pipih berukuran 0,5 x 0,2 mm, diletakkan pada permukaan buah terutama pada lekukan buah
·      Larva yang baru menetas langsung menggerek buah dan tetap tinggal di dalam buah. Menjelang berkepompong larva keluar dari buah. Panjang larva 10 – 12 mm berwarna putih kotor. Larva berkepompong pada permukaan buah, daun, lembar plastik, kertas, batang dll
c.         Ulat Kilan (Hyposidra talaca), Ulat bulu (Orgya postica)
-       Gejala serangan
-   Ulat kilan dan ulat bulu umumnya menyerang pada peralihan musim hujan ke musim kemarau atau masa setelah terjadi “Petatan” disaat musim hujan. Menyerang daun muda atau flush hingga daun berlubang-lubang bahkan pada saat serangan parah sampai tinggal tulang daunnya saja.
-          Daun tua jarang sekali terserang
-      Pengamatan di areal pembibitan dilakukan setiap hari oleh Mandor pembibitan yang terlatih. Pengamatan terutama diarahkan ke tanaman lamtoro (tanaman penaung, pembibitan dan sekitarnya) karena ulat bulu dan ulat kilan umumnya akan menyerang lamtoro terlebih dahulu sebelum turun ke bawah menyerang bibit kakao. Jika diketemukan dapat segera dilakukan pengendalian.              
-       Biologi Hama
-       Serangga dewasa berupa kupu-kupu, mempunyai dua pasang sayap berwarna coklat kelabu. Periode imago =4 – 6 hari,telur yang dihasilkan mencapai 500 – 700 butir
-    Telur bulat berdiameter 1 mm, diletakkan secara berkelompok pada retakan kulit batang (lamtoro, kakao dll) ± 3 meter dari permukaan tanah. Telur semula berwarna kuning kemudian berubah menjadi hijau. Periode telur = 4 – 7 hari
-     Larva berwarna hitam dengan garis berwarna putih pada ruas tubuh. Larva sering bergantung pada benang liurnya. Periode larva = 15 – 20 hari dengan 5 instar
-     Pupa/kepompong diletakkan diatas tanah dibawah seresah disekitar tanaman yang terserang, berwarna coklat kehitaman. Periode pupa = 7 – 9 hari
                                             
-       Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan hama
-          Daur hidup Hiposidra talaca dipengaruhi oleh jenis inangnya
-   Flaktuasi populasinya juga dipengaruhi oleh parasit/musuh-musuh alaminya. Ledakan populasi umumnya pada bulan April dan Mei
-   Serangan pada tanaman kakao biasanya diawali dari tanaman lamtoro yang merupakan tanaman penaung. Kemudian ulat turun ke tanaman kakao
-     Ulat turun dari tanaman lamtoro ke kakao disebabkan oleh mulai naiknya suhu pada tajuk lamtoro sedangkan suhu pada tajuk tanaman kakao masih lebih rendah selain itu juga disebabkan karena mencari makan
 -       Tanaman Inang Lain
-          Hyposidra talaca sangat pholyphag, tanaman inang antaranya : Kina, Lamtoro, Teh dll
-       Pengendalian
·     Pengendalian di Pembibitan
-      Pengendalian ulat kilan dan ulat bulu pada pembibitan dilakukan seawal mungkin saat populasi masih rendah secara : mekanis (diambil dan dikumpulkan), fisik (pembakaran gerombolan ulat instar awal biasanya pada batang tanaman lamtoro), atau cara kimia dengan insektisida.
-     Penyemprotan diarahkan ke tanaman penaung dan bibit kakao. Dilakukan pada pagi hari (< jam 10.00 WIB) sebelum sebagian besar ulat turun ke pembibitan.
-   Evaluasi hasil penyemprotan dilakukan hari itu juga untuk memastikan efektifitasnya
-          Pengendalian di Areal TM
-  Pengendalian dilakukan secara terpadu dengan menggabungkan tehnik-tehnik pengendalian yang kompatibel
-      Pengamatan dilakukan bersama dengan pengamatan Hellopeltis sp dengan 10 ph lamtoro contoh hanya diambil secara diagonal
-   Waktu pengamatan adalah pada bulan-bulan menjelang timbulnya ulat atau seminggu setelah nampak ada kupu-kupu
-      Secara Mekanis  :  Dilakukan dengan mencari dan mengumpulkan secara bertahap imago, telur, larva dan baru pupa sesuai dengan urutan stadia hama yang sedang berlangsung
-   Secara Fisik  :  Dilakukan pembakaran telur-telur pada batang tanaman dengan menggunakan obor
-          Secara Kimia
o   Penyemprotan dilakukan seawal mungkin setelah ditemukan larva instar awal. Areal yang disemprot adalah areal terserang ditambah areal barier yaitu areal-areal disekitar areal terserang, terutama areal yang searah dengan arah angin
o   Jenis dan dosis / konsentrasi insektisida didasarkan pada hasil uji efikasi di tiap-tiap kebun. Insektisida yang digunakan adalah insektisida piretroid
o   Jika serangan telah meluas, dapat digunakan dengan pengabutan (Foging) Efektifitas penyemprotan/pengabutan akan nyata jika penyemprotan / pengabutan dilakukan saat instar I s.d III dan imago karena instar IV, V dan pupa lebih tahan
d.        Uret / Gayas
Jenis          :          -   Holotrichia serrata, H. Vufoflova, H. fessa
                      -   Anomalia varians
                      -   Lavcopholis sp
                      -   Exopholis sp
                      -   Lepidiota stigma
 -   Gejala Serangan
Uret termasuk golongan serangga hama yang penting pada tanaman kakao. Hama ini memakan akar tanaman sehingga tanaman menjadi layu daun menguning dan akhirnya mati. Serangan biasanya “mengomplek” di daerah-daerah tertentu, cenderung ditanah-tanah berpasir
-       Pengamatan
o   Di area pembibitan, pengamatan dilakukan oleh mandor pembibitan yang telah terlatih. Pengamatan dilakukan intensif mulai bulan Januari-Juli, terutama pada saat pendangiran dan pengamatan pada gejala yang tampak. Bulan Januari-Juli merupakan masa rawan dimana hama masih dalam stadia telur dan larva.
o   Di areal TBM dan TM, pengamatan dilakukan setiap 2 minggu oleh pengamat atau mandor pemeliharaan yang telah terlatih. Pengamatan dimulai bulan Oktober - Mei
-          Pencegahan
Pupuk kandang untuk media polybag diusahakan jangan berasal dari daerah endemi gayas. Sebelum digunakan, pupuk kandang diberi 0,5 – 1 kg garam per m3 kemudian dicampur secara merata. Maksud pemberian garam adalah untuk membunuh gayas yang mungkin berada pada pupuk kandang tersebut.
-       Pengendalian
·      Di area pembibitan pengendalian dilakukan pada saat pendangiran. Uret dicari disekitar leher akar kemudian dikumpulkan dan dibunuh. Pengendalian kimiawi dilakukan dengan cara penyiraman ± 0,5 liter larutan sipermetrin (Rugby 50EC) konsentrasi 0,05 % per polybag pada leher akar.
·           Secara Mekanis
- Menangkap imago pada masa aktif (Oktober – Desember ). Penangkapan dapat menggunakan perangkap cahaya ( Light trap )
-          Mencari dan mengumpulkan larva (uret) serta telurnya yang berada dalam tanah terutama disekitar perakaran tanaman ( Desember – Mei ). Pencarian dilakukan dengan cangkul secara berhati –hati agar tidak merusak perakaran. Tanah yang dibongkar kemudian dikembalikan pada posisi semula.
·           Secara Kimiawi
Dilakukan penyiraman insektisida sipermetrin ( 50 EC ) konsentrasi 0,05 % pada leher akar radius ± 20 cm. Dosis larutan 1 – 2 liter per pohon. Penyiraman dilakukan pada bulan Januari – Mei ( tergantung hasil pengamatan ) dengan interval 3 – 4 minggu sekali.
e.         Penggerek Cabang (Zeuzera sp)
-       Gejala Serangan
Larva menggerek cabang kakao muda yang bergaris tengah ± 3 cm. Panjang saluran gerekan mencapai 40 – 50 cm menuju kepucuk tanaman. Besar saluran gerekan 1 - 1,2 cm melingkar batang dikulit sekunder. Cabang diatas bagian yang digerek mati dan mudah patah. Serangan ditandai oleh kotoran yangberbentuk silindris berwarna merah pucat yang dikeluarkan melalui liang gerekan
-       Biologi
Serangga betina mampu meletakkan telur 500 – 1000 butir. Stadia telur 10 – 11 hari, stadia larva 81- 151 hari, sedangkan total masa perkembangan 4 – 5,5 bulan
-       Tanaman Inang
     Kapas, teh, kopi, kakao, jeruk, jati dll
-       Pengamatan
  Dilakukan oleh petugas yang terlatih selama musim kemarau atau mendapatkan informasi dari mandor pemeliharaan. Umumnya serangan penggerek batang terjadi pada blok-blok tertentu dan menetap (seperti pinggir hutan, areal bongkar atau tak terawat dan terbuka)
-       Pengendalian
·       Secara Mekanis
       Tanaman yang terserang dipotong pada batas 5-10 cm dibawah lubang masuknya larva, batang atau cabang dibelah dan larvanya dibunuh. Pekerjaan dilaksanakan oleh regu khusus dengan cara memburu berdasarkan pengamat.

f.          Ulat Darna / ulat api ( Darna trima )
-       Gejala Serangan
-    Serangan larva instar awal menimbulkan bintik-bintik tembus cahaya pada daun, kemudian menjadi bercak coklat dikelilingi warna kuning dan dapat meluas keseluruh permukaan daun sehingga daun mati dan gugur
-   Larva instar lanjut makan tepi helaian daun atau bagian tengah daun sehingga menimbulkan lubang-lubang besar. Pada serangan lanjut daun dapat gugur
-       Biologi
-     Imago berupa ngengat ( berwarna putih kecoklatan ) yang aktif pada malam hari. Sayap coklat dengan garis-garis melintang. Panjang tubuh ± 7 mm dengan lebar rentang sayap ± 10 mm
-      Jumlah telur yang dihasilkan 40 – 90 butir. Bentuk telur agak gepeng dan menempel secara terpencar pada permukaan bawah daun. Periode telur 4 – 5 hari
-       Larva yang baru menetas berwarna dasar abu-abu dengan dilengkapi 2 bintik jingga pada punggungnya. Warna dasar kemudian berubah menjadi kuning dengan ban coklat melingkari punggungnya. Periode larva 40 – 50 hari
-    Kepompong bulat telur, diletakkan pada daun, cabang atau daun kering di tanah. Periode kepompong 14 – 17 hari
-       Siklus hidup Darna trima antara 58 – 67 hari
-       Tanaman Inang
Kelapa sawit, teh, jeruk, mangga, dan kelapa
-       Pengendalian
Secara umum pengendalian hampir sama dengan pengendalian ulat Kilan
-       Secara Mekanis  yaitu dilakukan pengumpulan larva, pupa kemudian dibakar
-     Secara Biologi yaitu dilakukan penyemprotan bioinsectisida  Phaecilomices fumosa. Dosis dan cara aplikasi sama dengan penggunaan Beauveria bassiana pada pengendalian Hellopeltis sp
-   Secara Kimiawi yaitu menyemprotkan insectisida. Pengendalian harus dilakukan seawal mungkin saat serangan masih ringan