PENGELOLAAN HAMA PADA TANAMAN KAKAO
Pengelolaan hama (hama dan penyakit) pada tanaman kakao dilaksanakan secara terpadu yang menitik beratkan pada “keseimbangan ekosistem” disuatu pertanaman sehingga mampu menekan populasi hama atau menekan kerusakan tanaman pada tingkat yang tidak merugikan. Sifat penerapan PHT adalah dinamik dan lentur sehingga perlu dilandasi oleh informasi dasar tentang ekosistem maupun sistem sosial ekonomi dari masing-masing kebun.
Perpaduan teknik atau taktik pengendalian yang optimal ditetapkan atas
dasar pengetahuan informasi yang tepat tentang ekosistem pertanaman kakao di
wilayah masing-masing.
Pelaksanaan SPD di pembibitan, dilakukan pengamatan setiap
hari oleh mandor pembibitan yang terlatih. Hal – hal yang diamati adalah gejala
serangan dan ada tidaknya individu hama yang menyerang bibit. Berdasarkan data
pengamatan tersebut dapat segera diambil kesimpulan dan keputusan oleh sinder
kebun untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan tindakan pengendalian serta
menentukan metode yang akan digunakan. Untuk tindakan pencegahan dilakukan
sterilisasi media tanam sebagai berikut :
-
Media tanaman sebelum digunakan perlu disterilisasi guna mematikan
cendawan dan serangga pengganggu yang berada dalam media tersebut melalui fumigasi tanah.
-
Setelah media dicampur sampai rata, tiga minggu sebelum ditanami media
disterilkan dengan menyiram Fungisida.
-
Selanjutnya media ditutup dengan
plastik dan dibiarkan selama tiga hari
-
Setelah dibiarkan selama tiga hari, plastik dibuka dan medium
diaduk-aduk.
Hama merupakan organisme pengganggu tanaman yang disebabkan oelh
serangga, tungau dan mamalia. Pengelolaan hama pada prinsipnya dilakukan
melalui pendekatan ekologis, yaitu tindakan evaluasi dan penggabungan semua
teknik pengendalian yang ada secara terpadu. Tujuannya adalah untuk mengelola
populasi hama agar tidak terjadi kerusakan secara ekonomis yang bisa berpengaruh
buruk terhadap lingkungan. Beberapa komponen tehnologi pengendalian yang dapat
dipadukan antara lain adalah kultur tehnis, mekanis, biologis, pemanfaatan
tanaman tahan dan komponen kimiawi. Komponen kimiawi merupakan pilihan terakhir
yang dilakukan jika komponen lainnya tidak mampu membendung peledakan populasi
hama. Pengendalian secara tepadu dilakukan dengan sistem peringatan dini (SPD).
2. Beberapa
jenis hama pada tanaman kakao dan cara pengendaliannya :
a.
Hellopelthis
Gejala
Serangan
- Bekas tusukan Hellopeltis sp pada buah, tunas, tangkai daun, terlihat bercak-bercak cekung berwarna hitam. Serangan baru bercak berwarna coklat muda
- Pentil yang berukuran < 5 cm, jika terserang akan gugur sedangkan yang berukuran > 5 cm dapat gugur atau berkembang tetapi akan terjadi perubahan bentuk. Pada buah-buah tua serangan kurang berarti dalam menyebabkan kerusakan tetapi jika tidak dikendalikan dengan baik, buah-buah tererang tersebut dapat menjadi tempat untuk bertelur (terus menerus) dan pada saatnya menjadi sumber serangan pada buah-buah yang lain atau sumber serangan pada pucuk tanaman saat tanaman flush
- Bercak-bercak pada tunas, tangkai daun, akan memanjang dan akhirnya tunas/daun layu kemudian mengering, tetapi daun yang mengering tetap melekat sampai batas waktu tertentu.
- Tunas-tunas yang baru tumbuh dari akibat serangan terdahulu dapat terserang kembali apabila tidak dilakukan pengendalian secara cepat dan benar
- Pertumbuhan pohon merana, percabangan pendek-pendek dan bengkok-bengkok
- Serangan yang terus menerus akan menyebabkan tanaman kakao meranting. Keadaan demikian membutuhkan waktu yang lama serta biaya yang tinggi untuk pemulihannya
- Pasca serangan pucuk umumnya diikuti dengan serangan Colletotricum sehingga pengendalian juga diarahkan pada penyakit tersebut.
Biologi Hama
- Hellopeltis sp termasuk ordo Hemiptera, famili Capsidae
- Ukuran tubuh serangga dewasa 6 – 7,5 mm dengan warna dasar hitam, thorak merah, abdomen hitam dengan strip putih
- Imago ± 15 hari, jumlah telur yang dihasilkan selama hidupnya 80 – 235 butir, diletakkan secara berkelompok 2 – 8 butir perkelompok di dalam jaringan tanaman, biasanya diletakkan pada tangkai buah, jaringan kulit buah, tangkai daun muda atau ranting.
- Telur menetas setelah 6 – 7 hari, ukuran telur 1,5 mm, bulat lonjong salah satu ujungnya terdapat 2 embelan berbentuk benang panjangnya ± 0,5mm antena yang tersembul keluar dari jaringan tanaman
- Masa Nimfa 10 – 12 hari, 5 kali ganti kulit (lima instar), sejak instar pertama sudah menghisap cairan tanaman
- Daur hidup Hellopeltis sp sangat dipengaruhi oleh ketinggian tempat, semakin tinggi tempat maka daur hidupnya semakin panjang.
Faktor – Faktor Yang
Mempengaruhi Perkembangan Hama
- Perkembangan Hellopeltis sp sangat dipengaruhi oleh ketersediaan makanan dilapang, semakin banyak makanan perkembangannya akan semakin mengarah ke maksimum terlebih lagi jika disertai dengan banyaknya curah hujan
- Dalam keadaan yang kurang menguntungkan Hellopeltis sp cenderung bertahan pada daerah-daerah lembah/curah yang memiliki iklim mikro yang cocok bagi perkembangannya. Daerah ini biasanya disebut daerah/sumber hama dimana jika keadaan mendukung Hellopeltis sp akan berkembang dan memencar dengan cepat
- Intensitas serangan cenderung lebih tinggi pada daerah terbuka (kurang penaung) dibandingkan pada daerah yang fungsi penaungnya optimum walaupun kemungkinan padat populasinya tidak jauh berbeda
- Hellopeltis aktif dipucuk tanaman terutama pada pagi hari kemudian turun kedalam tajuk atau bawah tajuk dan sering ke semak-semak menghindari sinar matahari langsung. Aktifitas paling rendah pada sore hari.
Tanaman Inang
- Tanaman inang yang memungkinkan Hellopelis sp hidup dan berkembang menyelesaikan daur hidupnya antara lain : teh, kina, kapok, Albizzia moluccana, kayu manis, rambutan, Tephosia vogeli, Gardenia jasminoides, (kaca piring), Erectites stylosa (sintrong) dll.
Pengendalian Secara Mekanis
- Dilakukan dengan menangkap Hellopeltis sp (nimfa, imago)
- Pelaksanaannya dapat dilakukan bersama dengan pengamatan atau dengan tenaga khusus melalui sistim borongan sesuai kondisi setempat.
- Menurunkan buah-buah cacat yang menjadi tempat peletakan telur.
Pengendalian Secara Kultur
Teknis
- Mengelola lingkungan agar tidak disukai Hellopeltis sp, dengan perlakuan seperti pangkasan, menghilangkan tanaman inang, dan mengendalikan gulma secara teratur. Melengkapi penaung sehingga dapat berfungsi optimum terutama di daerah-daerah yang hiaten
- Pemupukan lengkap dan berimbang ditujukan untuk mencegah tanaman menjadi lemah
Pengendalian Secara Biologi
Pengendalian dengan menggunakan Semut Hitam (Dolichoderus thoraxicus) Penyebaran semut hitam
dilakukan pada musim kemarau (Juni – Oktober) seiring dengan meningkatnya
populasi kutu putih. Penyebaran dimulai dari areal yang tingkat serangan normal
(< 8 %) selama ± 1 tahun dan areal di sekitar daerah semut. Cara
penyebarannya sebagai berikut :
- Buat sarang-sarang semut buatan dari daun kakao atau daun kelapa kering
- Sarang buatan diletakkan pada cabang / ranting tanaman di areal semut hitam
- Sementara menunggu sarang dihuni (3-4 minggu), areal yang direncanakan untuk pengembangan semut disiapkan. Semut-semut jenis lain yang merupakan pesaing (semut angkrang dll) dibunuh dengan insektisida piretroid sipermetrin (50 EC) konsentrasi sesuai hasil uji efikasi : 0,02 – 0,05 %
- Untuk menarik semut hitam, dapat digunakan kutu putih diareal tersebut dengan cara memindahkan kutu putih dari kulit buah yang dipanen ke buah/kolven muda (yang belum akan dipanen) pada pohon-pohon diareal itu
- Sebagian sarang-sarang semut buatan yang telah dihuni (ditandai dengan adanya kroto) dipindahkan dari areal semut ke areal pengembangan. Sarang-sarang tersebut diikat pada cabang-cabang/ranting kakao. Lubang keluar semut diarahkan ke bawah untuk menghindari masuknya air. Sarang-sarang baru dibuat dan dipasang kembali di areal sumber semut untuk mengganti sarang yang dipindahkan ke areal pengembangan.
- Jika makanan alami semut dirasa kurang, dapat dibantu dengan menyemprotkan larutan gula 10% ke kolven-kolven kakao atau kesarang-sarang semut tersebut
- Efektifitas optimum dalam mengendalikan Hellopeltis akan dicapai bila populasi semut sudah tinggi dan semut sering berkeliaran di kolven. Jumlah sarang per pohon kakao minimal 3 buah.
Pengendalian dengan Beauveria bassiana
Jamur Beauveria bassiana cukup
efektif untuk mengendalikan Hellopeltis
sp stadia imago. Penyemprotan dilakukan sore/malam hari dimana kelembaban kebun
tinggi (> 90 %) dan pada musim hujan. Dosis B bassiana = 1-1,5 kg biakan padat/ha dengan volume semprot 500 l/ha/aplikasi. Penyemprotan
menggunakan Knap Sack Sprayer atau Mist
Blower dengan volume semprot 200 ltr/ha.
Cara membuat larutan semprot sebagai berikut :
- Siapkan 200 liter air bersih bebas bahan kimia dalam drum plastik
- Tambahkan perata
- Ambil air tersebut ± 30 liter pisahkan jadi 2 dalam ember plastik ber
- B. Bassiana diremas-remas dengan kain kasa/kaos bersih dalam ember yang sudah diberi air dan perata, kemudian diaduk secara merata
- Larutan siap digunakan dan harus habis pada hari itu juga
b. PBK (
Conopomorpha cramerella )
-
Gejala Serangan
· Menyerang buah-buah kakao yang masih muda (± 8 cm) sampai masak. Stadium
yang menimbulkan kerusakan adalah stadium larva yang sejak keluar dari telur
langsung menggerek dan hidup di dalam buah sampai menjelang berkepompong
·
Larva memakan daging buah dan saluran makanan yang menuju biji (tidak
memakan biji)
· Gejala serangan pada buah muda tidak tampak, buah tetap berkembang
normal. Gejala serangan umumnya menunjukkan gejala belang kuning hijau, bila di guncang tidak
berbunyi. Daging buah tampak berwarna hitam, biji saling
lengket melekat
satu sama lain, keriput dan ringan (mutu rendah)
-
Biologi
· Imago berupa ngengat yang aktif malam hari, siang hari bersembunyi di
balik daun, ranting atau cabang. Panjang tubuh 7 mm dan lebar 2 mm, tidak dapat
terbang jauh tetapi mudah diterbangkan angin. Imago betina menghasilkan telur
50 – 100 butir
Telur berwarna jingga berbentuk pipih berukuran 0,5 x 0,2 mm,
diletakkan pada permukaan buah terutama pada lekukan buah
·
Larva yang baru menetas langsung menggerek buah dan tetap tinggal di
dalam buah. Menjelang berkepompong larva keluar dari buah. Panjang larva 10 –
12 mm berwarna putih kotor. Larva berkepompong pada permukaan buah, daun,
lembar plastik, kertas, batang dll
c. Ulat
Kilan (Hyposidra talaca), Ulat bulu (Orgya postica)
-
Gejala serangan
-
Ulat kilan dan ulat bulu umumnya menyerang pada peralihan
musim hujan ke musim kemarau atau masa setelah terjadi “Petatan” disaat musim
hujan. Menyerang daun muda atau flush hingga daun berlubang-lubang bahkan pada saat serangan parah sampai tinggal tulang daunnya saja.
-
Daun tua jarang sekali terserang
-
Pengamatan di areal pembibitan dilakukan setiap hari oleh Mandor
pembibitan yang terlatih. Pengamatan terutama diarahkan ke tanaman lamtoro
(tanaman penaung, pembibitan dan sekitarnya) karena ulat bulu dan ulat kilan
umumnya akan menyerang lamtoro terlebih dahulu sebelum turun ke bawah
menyerang bibit kakao. Jika diketemukan dapat segera dilakukan pengendalian.
-
Biologi Hama
-
Serangga
dewasa berupa kupu-kupu, mempunyai dua pasang sayap berwarna coklat kelabu.
Periode imago =4 – 6 hari,telur yang dihasilkan mencapai 500 – 700 butir
- Telur bulat berdiameter 1 mm, diletakkan secara berkelompok pada retakan
kulit batang (lamtoro, kakao dll) ± 3 meter dari permukaan tanah. Telur semula
berwarna kuning kemudian berubah menjadi hijau. Periode telur = 4 – 7 hari
- Larva berwarna hitam dengan garis berwarna putih pada ruas tubuh. Larva
sering bergantung pada benang liurnya. Periode larva = 15 – 20 hari dengan 5
instar
-
Pupa/kepompong diletakkan diatas tanah dibawah seresah disekitar tanaman
yang terserang, berwarna coklat kehitaman. Periode pupa = 7 – 9 hari
-
Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan hama
-
Daur hidup Hiposidra talaca
dipengaruhi oleh jenis inangnya
- Flaktuasi populasinya juga dipengaruhi oleh parasit/musuh-musuh alaminya.
Ledakan populasi umumnya pada bulan April dan Mei
- Serangan pada tanaman kakao biasanya diawali dari tanaman lamtoro yang merupakan
tanaman penaung. Kemudian ulat turun ke tanaman kakao
-
Ulat turun dari tanaman lamtoro ke kakao disebabkan oleh mulai naiknya
suhu pada tajuk lamtoro sedangkan suhu pada tajuk tanaman kakao masih lebih
rendah selain itu juga disebabkan karena mencari makan
-
Tanaman Inang Lain
-
Hyposidra talaca sangat pholyphag,
tanaman inang antaranya : Kina, Lamtoro, Teh dll
-
Pengendalian
·
Pengendalian
di Pembibitan
- Pengendalian ulat kilan dan ulat bulu pada pembibitan dilakukan seawal
mungkin saat populasi masih rendah secara : mekanis (diambil dan dikumpulkan),
fisik (pembakaran gerombolan ulat instar awal biasanya pada batang tanaman
lamtoro), atau cara kimia dengan insektisida.
-
Penyemprotan diarahkan ke tanaman penaung dan bibit kakao. Dilakukan pada
pagi hari (< jam 10.00 WIB) sebelum sebagian besar ulat turun ke pembibitan.
- Evaluasi hasil penyemprotan dilakukan hari itu juga untuk memastikan
efektifitasnya
-
Pengendalian di Areal TM
- Pengendalian dilakukan secara terpadu dengan menggabungkan tehnik-tehnik
pengendalian yang kompatibel
- Pengamatan dilakukan bersama dengan pengamatan Hellopeltis sp dengan 10 ph lamtoro contoh hanya diambil secara
diagonal
-
Waktu pengamatan adalah pada bulan-bulan menjelang timbulnya ulat atau
seminggu setelah nampak ada kupu-kupu
-
Secara Mekanis : Dilakukan dengan mencari dan mengumpulkan
secara bertahap imago, telur, larva dan baru pupa sesuai dengan urutan stadia
hama yang sedang berlangsung
- Secara Fisik : Dilakukan pembakaran telur-telur pada batang
tanaman dengan menggunakan obor
-
Secara Kimia
o Penyemprotan dilakukan
seawal mungkin setelah ditemukan larva instar awal. Areal yang disemprot adalah
areal terserang ditambah areal barier yaitu areal-areal disekitar areal
terserang, terutama areal yang searah dengan arah angin
o
Jenis dan dosis / konsentrasi insektisida didasarkan pada hasil uji efikasi
di tiap-tiap kebun. Insektisida yang digunakan adalah insektisida piretroid
o
Jika serangan telah meluas, dapat digunakan dengan pengabutan (Foging)
Efektifitas penyemprotan/pengabutan akan nyata jika penyemprotan / pengabutan
dilakukan saat instar I s.d III dan imago karena instar IV, V dan pupa lebih
tahan
d. Uret /
Gayas
Jenis : - Holotrichia serrata, H. Vufoflova, H. fessa
- Anomalia varians
- Lavcopholis sp
- Exopholis sp
- Lepidiota stigma
- Gejala Serangan
Uret termasuk golongan serangga hama yang penting pada tanaman kakao.
Hama ini memakan akar tanaman sehingga tanaman menjadi layu daun menguning dan
akhirnya mati. Serangan biasanya “mengomplek” di daerah-daerah tertentu,
cenderung ditanah-tanah berpasir
-
Pengamatan
o Di area pembibitan,
pengamatan dilakukan oleh mandor pembibitan yang telah terlatih. Pengamatan
dilakukan intensif mulai bulan Januari-Juli, terutama pada saat pendangiran dan
pengamatan pada gejala yang tampak. Bulan Januari-Juli merupakan masa rawan
dimana hama masih dalam stadia telur dan larva.
o Di areal TBM dan TM,
pengamatan dilakukan setiap 2 minggu oleh pengamat atau mandor pemeliharaan
yang telah terlatih. Pengamatan dimulai bulan Oktober - Mei
-
Pencegahan
Pupuk kandang untuk media
polybag diusahakan jangan berasal dari daerah endemi gayas. Sebelum digunakan, pupuk
kandang diberi 0,5 – 1 kg garam per m3 kemudian
dicampur
secara merata. Maksud pemberian garam adalah untuk membunuh gayas yang mungkin
berada pada pupuk kandang tersebut.
-
Pengendalian
·
Di area
pembibitan pengendalian dilakukan pada saat pendangiran. Uret dicari disekitar
leher akar kemudian dikumpulkan dan dibunuh. Pengendalian kimiawi dilakukan
dengan cara penyiraman ± 0,5 liter larutan sipermetrin (Rugby 50EC) konsentrasi 0,05 % per polybag pada leher akar.
·
Secara
Mekanis
- Menangkap imago pada masa aktif (Oktober – Desember ). Penangkapan dapat
menggunakan perangkap cahaya ( Light trap )
-
Mencari dan mengumpulkan larva (uret) serta telurnya yang berada dalam
tanah terutama disekitar perakaran tanaman ( Desember – Mei ). Pencarian
dilakukan dengan cangkul secara berhati –hati agar tidak merusak perakaran.
Tanah yang dibongkar kemudian dikembalikan pada posisi semula.
·
Secara
Kimiawi
Dilakukan penyiraman insektisida sipermetrin ( 50 EC ) konsentrasi 0,05 %
pada leher akar radius ± 20 cm. Dosis larutan 1 – 2 liter per pohon. Penyiraman
dilakukan pada bulan Januari – Mei ( tergantung hasil pengamatan ) dengan
interval 3 – 4 minggu sekali.
e. Penggerek
Cabang (Zeuzera sp)
-
Gejala Serangan
Larva menggerek cabang kakao muda yang bergaris tengah ± 3 cm. Panjang
saluran gerekan mencapai 40 – 50 cm menuju kepucuk tanaman. Besar saluran
gerekan 1 - 1,2 cm melingkar batang dikulit sekunder. Cabang diatas bagian yang
digerek mati dan mudah patah. Serangan ditandai oleh kotoran yangberbentuk
silindris berwarna merah pucat yang dikeluarkan melalui liang gerekan
-
Biologi
Serangga betina mampu meletakkan telur 500 – 1000 butir. Stadia telur 10
– 11 hari, stadia larva 81- 151 hari, sedangkan total masa perkembangan 4 – 5,5
bulan
-
Tanaman Inang
Kapas, teh, kopi, kakao, jeruk, jati dll
-
Pengamatan
Dilakukan oleh petugas yang terlatih selama musim kemarau atau
mendapatkan informasi dari mandor pemeliharaan. Umumnya serangan penggerek
batang terjadi pada blok-blok tertentu dan menetap (seperti pinggir hutan,
areal bongkar atau tak terawat dan terbuka)
-
Pengendalian
·
Secara
Mekanis
Tanaman yang terserang dipotong pada batas 5-10 cm dibawah
lubang masuknya larva, batang atau cabang dibelah dan larvanya dibunuh.
Pekerjaan dilaksanakan oleh regu khusus dengan cara memburu berdasarkan
pengamat.
f.
Ulat Darna / ulat api ( Darna trima )
-
Gejala Serangan
- Serangan larva instar awal menimbulkan bintik-bintik tembus cahaya pada
daun, kemudian menjadi bercak coklat dikelilingi warna kuning dan dapat meluas
keseluruh permukaan daun sehingga daun mati dan gugur
-
Larva instar lanjut makan tepi helaian daun atau bagian
tengah daun sehingga menimbulkan lubang-lubang besar. Pada serangan lanjut daun
dapat gugur
-
Biologi
-
Imago berupa ngengat ( berwarna putih kecoklatan ) yang aktif pada malam
hari. Sayap coklat dengan garis-garis melintang. Panjang tubuh ± 7 mm dengan
lebar rentang sayap ± 10 mm
-
Jumlah telur yang dihasilkan 40 – 90 butir. Bentuk telur agak gepeng dan
menempel secara terpencar pada permukaan bawah daun. Periode telur 4 – 5 hari
-
Larva yang baru menetas berwarna dasar abu-abu dengan dilengkapi 2 bintik
jingga pada punggungnya. Warna dasar kemudian berubah menjadi kuning dengan ban
coklat melingkari punggungnya. Periode larva 40 – 50 hari
- Kepompong bulat telur, diletakkan pada daun, cabang atau daun kering di
tanah. Periode kepompong 14 – 17 hari
-
Siklus hidup Darna trima antara 58 – 67 hari
-
Tanaman Inang
Kelapa sawit, teh, jeruk, mangga, dan kelapa
-
Pengendalian
Secara umum pengendalian hampir sama dengan pengendalian ulat Kilan
-
Secara Mekanis yaitu dilakukan
pengumpulan larva, pupa kemudian dibakar
-
Secara Biologi yaitu dilakukan penyemprotan bioinsectisida Phaecilomices
fumosa. Dosis dan cara aplikasi sama dengan penggunaan Beauveria bassiana pada pengendalian Hellopeltis sp
-
Secara Kimiawi yaitu menyemprotkan insectisida. Pengendalian harus
dilakukan seawal mungkin saat serangan masih ringan