JENIS GULMA PERKEBUNAN KAKAO
DAN
CARA PENGENDALIANNYA
1.
Pengertian Gulma
Gulma adalah
tumbuh-tumbuhan yang tumbuh ditempat yang tidak dikehendaki dan umumnya
merugikan manusia, atau belum diketahui manfaatnya. Jadi suatu tumbuhan akan
berstatus sebagai gulma atau tidak, tergantung pada situasi tempat tumbuhnya,
apakah tumbuhnya di tempat yang dapat merugikan usaha manusia atau tidak.
Gulma dapat
berupa tumbuhan berdaun lebar, rumput-rumputan, tanaman air maupun tanaman
berbunga parasitik. Pada umumnya tumbuhan yang lebih lazim sebagai gulma
cenderung mempunyai sifat-sifat atau ciri khas tertentu yang memungkinkannya
untuk mudah tersebar luas dan mampu menimbulkan kerugian dan gangguan.
2.
Klasifikasi Gulma
Ada bermacam-macam dasar penggolongan gulma, antara lain
:
a.
Berdasarkan
Morfologinya
·
Grasses
(rumput-rumput); yang masuk famili gramineae; untuk gulma di perkebunan
misalnya :
*
Pahitan (Paspalum conjugatum) :
*
Ottochloa nodosa :
·
Sedges (sejenis teki, termasuk famili Cyperaseae) mirip dengan golongan rerumputan, bedanya
batangnya berbentuk segitiga, untuk di perkebunan misalnya
*
Teki udel (Cyperus cyperoides) :
*
Teki (Cyperus rotundus) :
* Cyperus iria
:
·
Broad leaf (daun
lebar), untuk gulma di perkebunan misalnya :
*
Mekania (Mekania sp) :
*
Putri malu (Mimosa sp) :
*
Wedusan (Ageratum conizoydes) :
*
Ciplukan (Physalis
angulata) :
·
Paku-pakuan
(pakis), untuk gulma di perkebunan misalnya :
*
Pakis kadal (Cyclosorus aridus) :
*
Pakis kawat (Gleichenia linearis) :
*
Pakis (Nephrolepis biserrata) :
*
Pakis (Nephrolepis cordifolia) :
b.
Berdasarkan Umur
Gulma
·
Annual weed
(umurnya kurang dari satu tahun).
Gulma ini
mudah dikendalikan tetapi sulit diberantas karena umumnya bijinya banyak dan
memiliki dormansi.
·
Biannual (berumur
lebih dari satu tahun dan maximum 2 tahun). Tahun pertama umumnya tumbuh ke
arah vegetatif, dan tahun kedua ke arah generatif, setelah itu mati.
·
Perennial (tahunan,
hidup lebih dari 2 tahun) dapat berkembang biak secara vegetatif dan generatif,
yang dibedakan.
·
Gulma tahunan
sederhana, berkembang biak dengan biji, dan secara vegetatif jika akar tajuknya
dilukai.
·
Gulma tahunan
menjalar, berkembang biak dengan akar yang menjalar, baik yang tumbuh diatas
tanah (stolon), maupun yang ada di dalam tanah (rhizoma). Golongan ini paling
sulit dikendalikan.
3.
Ciri-ciri Tumbuhan yang lazim menjadi gulma
a.
Pertumbuhan cepat
b.
Mempunyai daya
saing yang kuat dalam perebutan hara, air dan sinar matahari.
c.
Mempunyai toleransi
yang besar terhadap suasana lingkungan yang ekstrim
d.
Mempunyai daya
berkembang biak yang besar baik secara generatif atau vegetatif atau
kedua-duanya
e.
Alat
perkembangbiakannya mudah tersebar melalui angin, air maupun binatang
f.
Biasanya mempunyai
sifat dormansi yang memungkinkan untuk bertahan hidup dalam kondisi yang tidak
menguntungkan.
4. Kerugian dan
Manfaat keberadaan Gulma
a.
Pertumbuhan gulma
yang tidak terkendali akan menimbulkan kerugian antara lain :
·
Menjadi pesaing
dalam pengambilan hara, air dan sinar matahari
·
Gulma tertentu
(alang-alang dan Mekania sp)
menghasilkan sekresi yang bersifat racun bagi tanaman pokok (sifat allelopati)
·
Mempengaruhi mikro
klimat, yang menguntungkan perkembangan populasi hama/penyakit tanaman pokok
(sumber hama/penyakit)
·
Menjadi tanaman
inang pengganti (alternate host) dari hama penyakit tanaman pokok
·
Gulma yang
merambat, dapat membelit tanaman pokok, sehingga pertumbuhannya terganggu
·
Menyulitkan
kegiatan kultur tehnis misalnya, pemupukan, wiwil kasar, menunas dan
sebagainya.
·
Meningkatkan resiko
kebakaran.
b.
Walaupun demikian,
pada situasi tertentu gulma ada manfaatnya juga, misalnya :
·
Melindungi
permukaan tanah dari sinar matahari
·
Mengurangi bahaya
erosi
·
Menambah bahan
organik ke dalam tanah
·
Memperbaiki
inviltrasi air sehingga menambah retensi air dalam tanah
·
Memperbaiki sifat
biologi tanah
c.
Oleh karena itu
managemen pengendalian gulma terutama diarahkan untuk menekan atau
menghilangkan kerugian yang ditimbulkan terhadap tanaman pokok dan lingkungan
sekitarnya.
5.
Metode Pengendalian Gulma
Pengendalian
gulma kuratif pada umumnya dilakukan dengan dua cara yakni manual (dengan
tangan, cangkul atau sabit) dan secara kimiawi (dengan herbisida). Untuk areal
yang kemiringannya > 30º, pengendalian secara kimiawi hanya dilakukan pada
larikan tanaman, sedangkan punggung (“perengan”) tidak dianjurkan dikendalikan
secara kimiawi karena dikhawatirkan akan terjadi longsor atau tanah tererosi.
Pada lahan yang miring tersebut cukup dengan melakukan jombret (“slashing”),
tanpa mencabut gulma dengan akarnya.
a.
Mekanis
Dilakukan
dengan tenaga manusia yang dibantu dengan alat-alat pertanian seperti sabit,
cangkul, garpu, parang, traktor dsb.
Biasanya dilakukan pada daerah yang cukup tenaga manusianya, atau pada lahan
yang relatif datar (untuk traktor). Cara mekanis yang biasa dilakukan:
-
Pendongkelan
(dengan akarnya, rizhome, umbi dsb), khusus untuk tanaman perdu
Keuntungannya
·
Dapat dilakukan
bersamaan dengan pengolahan tanah
·
Mudah dikerjakan
dan tidak membutuhkan keahlian/skil khusus
·
Pada keadaan
tertentu biayanya lebih murah
Kerugiannya
·
Pada tanah miring
akan memperbesar erosi
·
Dalam waktu yang
lama akan terjadi cekungan tanah disekitar tanaman sehingga terjadi genangan
air pada musim hujan
·
Jika kurang
hati-hati dapat merusak tanaman
-
Kesrik Pendem
Yakni pengendalian dengan cara mencangkul gulma
sehingga perakaran gulma yang dangkal ikut terpotong (tercabut), kemudian
serasah gulma tersebut dibenam di ujung daerah feeder root / gandungan sehingga
menjadi humus yang dapat memperbaiki struktur tanah
-
Jombret (slashing)
Penyiangan
tanpa mengganggu akar gulma dengan tujuan membuang bagian vegetatif dan
generatif gulma yang berada di atas tanah. Dibedakan antara jombret dan jombret
merah. Jombret merah adalah jombret yang mepet, gulma yang tersisa ≤ 5 cm.
Keuntungannya
·
Menghasilkan bahan
mulsa untuk tanaman pokok
·
Tidak menambah
erosi
·
Mudah dikerjakan
dan tidak membutuhkan keahlian/skil yang tinggi
·
Pada keadaan
tertentu biayanya lebih murah
Kerugiannya
·
Jika pertumbuhan
gulma cepat, harus dilakukan berulang-ulang
·
Merangsang akar
untuk menyerap unsur hara dari tanah yang lebih banyak.
b.
Kultur tehnis
Beberapa kultur tehnis yang dapat menekan pertumbuhan gulma adalah :
·
Mengatur jarak
tanam tanaman pokok
·
Menutup permukaan
tanah sekitar tanaman pokok dengan seresah/mulsa
·
Menanam tanaman
penaung
c.
Biologis
Dengan
menggunakan musuh alami tertentu (berupa serangga atau jamur) yang menyerang
gulma tertentu. Sampai dengan saat ini belum diterapkan di Indonesia.
d.
Kimiawi
Pengendalian
gulma dengan menggunakan bahan-bahan kimia yang disebut herbisida. (Klasifikasi
herbisida dijelaskan pada uraian pestisida dan alat aplikasinya).
-
Keuntungan
·
Tidak memerlukan
banyak tenaga manusia
·
Kerusakan pada
tanaman pokok dapat dihindari
·
Erosi tanah dapat
diminimisasi
·
Waktu yang
diperlukan lebih singkat
·
Cekungan-cekungan
tanah di sekitar tanaman dapat dihindari
-
Kerugian
·
Biaya pengendalian
gulma sangat tergantung dari harga herbisida
·
Diperlukan tenaga
skill
·
Menggunakan alat-alat
khusus yang relatif lebih mahal
·
Jika tidak
hati-hati dapat merusak tanaman pokok dan meracuni manusia, ternak serta
mencemari lingkungan
·
Pemakaian terus
menerus dalam jangka panjang dapat mengeraskan tanah.
( Herbisida
yang digunakan dijelaskan pada sub Bab pestisida dan alat aplikasinya ).
e.
Terpadu
Adalah menggabungkan cara-cara pengendalian tersebut
menjadi satu bagian yang utuh. Dalam pelaksanaan di lapang, pada umumnya
pengendalian secara terpadu inilah yang diterapkan. Saat ini yang banyak diterapkan
ialah gabungan antara mekanis, kultur tehnis, dan kimiawi.
6.
Manajemen Pengendalian Gulma
Dalam
pengendalian gulma dibedakan menjadi dua macam yakni pemberantasan (eradikasi)
dan pengendalian (weed control). Pemberantasan ditujukan untuk gulma jahat
yakni alang-alang dan mekania, sedangkan untuk gulma lainnya (general weed)
dilakukan pengendalian.
a.
Pemberantasan
Alang-alang
Tujuan
pemberantasan alang-alang untuk melindungi tanaman pokok dari gangguan
alang-alang. Pemberantasan alang-alang harus dilakukan sedini mungkin, karena
alang-alang termasuk gulma keras (jahat) yang menghasilkan sekresi yang
bersifat racun bagi tanaman pokok (sifat allelopati).
Pelaksanaan
pemberantasan alang-alang, dibedakan antara areal alang-alang dan areal eks
hutan atau budidaya pokok (kopi, kakao, karet, teh)
Di areal eks
alang-alang, pemberantasan alang-alang dilakukan sebelum konservasi tanah
dimulai dan di ulang setelah konservasi tanah selesai. Sedangkan di areal eks
hutan atau eks budidaya pokok, pemberantasan alang-alang dilakukan setelah
konservasi tanah selesai.
Cara
pemberantasannya sama, yakni dilakukan secara kimiawi. Urutan pekerjaan :
(1)
Persiapan dan
Perencanaan
-
Pertama kali,
dibuat inventarisasi alang-alang dengan dilakukan survey seluruh areal dan
mencatat kondisi alang-alang yang ada pada areal tersebut, kemudian dipetakan.
Dari data tersebut dibakukan pada daftar inventarisasi alang-alang, sekaligus
dibuat peta kondisi alang-alang. Sesuai kondisi dilapang, alang-alang diklasifikasikan
sebagai berikut :
·
Sheet
Pertumbuhan
alang-alang dikatakan sheet. Jika dalam 1 m2 terdapat alang-alang ≥ 60 rumpun,
dengan keadaan menutup lebih dari 60 % per hektar
·
Vlekken (spot)
Pertumbuhan
alang-alang dikatakan spot jika dalam 1 m2 terdapat alang-alang ≥ 60 rumpun,
dengan menutup kurang dari 60 % per hektar. Jadi keadaan spot ialah keadaan
sheet tetapi dalam luasan yang lebih kecil (dapat terpencar dibeberapa tempat)
·
Sporadis
Pertumbuhan
sporadis ialah pertumbuhan yang tidak menutup suatu luasan areal. Pertumbuhan
alang-alang sporadis dibedakan antara :
*
Sporadis berat
Bila terdapat
lebih dari 10 rumpun per m2. Sporadis berat ini dapat segera berubah menjadi
sheet/spot jika tidak segera mendapat perlakuan
*
Sporadis sedang
Bila terdapat
5 – 10 rumpun per m2
·
Bebas
Suatu areal
disebut bebas alang-alang bukan berarti tidak ada alang-alang sama sekali,
tetapi pertumbuhan alang-alang jarang sekali. Karena itu areal yang bebas
alang-alang tetap memerlukan kontrol yakni dengan buru alang-alang.
-
Dengan Daftar
Inventaris dan Peta Alang-alang, disusun Rencana Kerja Pemberantasan
Alang-alang, yang meliputi :
·
Jumlah hektar areal
alang – alang yang harus diberantas
·
Jumlah herbisida
yang dibutuhkan
·
Jumlah alat semprot
yang dibutuhkan
·
Jumlah air yang
harus disiapkan setiap harinya, letak sumber air. Air cukup diangkut dengan
tenaga manusia atau perlu diangkut dengan kendaraan bermotor (truk), dan
·
Kebutuhan tenaga
kerja setiap hari
-
Semuanya dirangkum
pada suatu daftar seperti contoh belangko pada lampiran.
-
Alat semprot yang
digunakan ialah alat semprot punggung tekanan rendah (Solo, Kef, CP, Micron
Herbi dsb). Keterangan selengkapnya dapat dibaca pada sub bab Pestisida dan
Alat Aplikasinya.
Tabel
Dosis Herbisida Sesuai Dengan Kondisi
Alang-alang di lapang
Klasifikasi
Alang-alang
|
Sheet dan
Sporadis Berat
|
Vlekken dan
Sporadis Sedang
|
Sporadis
Ringan
|
·
Areal
Terbuka
·
Areal
Terlindungi
|
Dosis
glyphosate (L/ha-efektif)
|
||
5
4
|
2,5
2,0
|
1,25
1,00
|
|
Alat semprot tekanan rendah
Nozel Poli jet (ICI)
Nozel ULV 100
Nozel ULV 200
Micron Herbi
|
Jumlah Air
yang Digunakan (L/ha-efektif)
|
||
600 – 800
100 – 200
200 – 300
20 – 30
|
300 – 400
50 – 100
100 – 150
10 – 15
|
150 – 200
25 – 50
50 – 75
5
– 7,5
|
|
(2)
Pelaksanaan
-
Hal yang harus
diperhatikan dalam pelaksanaan :
·
Waktu aplikasi
Aplikasi harus
disesuaikan dengan kondisi alang-alang dan kondisi lingkungan setempat.
Sebaiknya diaplikasikan pada saat :
*
Pertumbuhan
vegetatif alang-alang sedang aktif, tidak pada saat alang-alang berbunga
(pertumbuhan generatif). Areal yang alang-alangnya sudah setinggi ≥ 0,75 meter
atau lebih, sebelum disemprot dengan herbisida agar dibabat dulu, kemudian
dibiarkan tumbuh kembali sampai setinggi 25-50 cm dan masih tumbuh aktif, baru
disemprot.
*
Pada musim hujan
harus diperhatikan bahwa hujan yang turun kurang dari 4 jam setelah
penyemprotan dapat mengakibatkan tercucinya sebagian herbisida sehingga akan
mengurangi efektifitasnya.
*
Sebaliknya, pada
kondisi yang ekstrim kering pemberantasan alang-alang dengan herbisida tidak
dapat ditranslokasikan ke seluruh jaringan tumbuhan dengan baik
*
Penyemprotan
herbisida pada saat terjadi angin kencang akan menyebabkan droplet herbisida
tidak terarah
·
Air pelarut
Air yang
digunakan diusahakan bersih ( tidak kotor ) karena dapat memfiksasi herbisida,
sehingga pemberantasan tidak efektif.
·
Kalibrasi
Sebelum
melaksanakan penyemprotan , para penyemprot dianjurkan untuk melakukan
kalibrasi, tujuan kalibrasi :
*
Agar dosis
herbisida tepat sasaran
*
Agar dosis
herbisida yang telah ditentukan dapat disemprotkan merata diseluruh areal
*
Cara melakukan
kalibrasi diuraikan pada sub bahan pestisida dan Alat Aplikasinya.
·
Cara mencampur
herbisida. Bahan dan alat yang harus disediakan :
*
Gelas ukur
*
Drum dengan volume
100 -200 liter
*
Alat pengaduk dari
kayu
*
Air dan herbisida
*
Sarung tangan
plastik
*
Alat perlengkapan
KKK
Misalnya membuat formulasi dengan 600 liter air dan 4
liter herbisida, dapat dilakukan beberapa tahap pencampuran (misalnya 4 tahap).
Setiap kali pencampuran terdiri : 150 L air + 1 L herbisida, caranya:
*
Isi drum dengan air
sebanyak ± 1/3 bagian dan 150 L air
*
Kemudian tambahkan
1 liter herbisida
*
Aduk sampai rata
*
Sambil diaduk
terus, sisa air (± 2/3 bagian) dituangkan sedikit demi sedikit sampai habis
*
Tuangkan ke alat
semprot
-
Cara kerja di
lapang
Areal yang
akan disemprot, dikelompokkan sesuai klasifikasi alang-alang (daftar
inventaris). Setiap kelompok dibagi menjadi beberapa blok yang luasnya
disesuaikan dengan kemampuan menyemprot perhari (tergantung pada jumlah alat
semprot dan tenaga kerja yang tersedia)
-
Prioritas
pemberantasan alang-alang dengan urutan sebagai berikut :
·
Sporadis (ringan,
sedang, berat)
·
Spot (vlekken)
·
Sheet
-
Penyemprotan
koreksi
Tiga minggu
setelah penyemprotan pertama, perlu dilakukan penyemprotan koreksi pada areal
yang lolos penyemprotan pertama. Pada saat itu nampak alang-alang yang
tersemprot sudah berwarna kuning kecoklatan sedangkan yang lolos tetap berwarna
hijau.
(3)
Pengawasan dan
Evaluasi
-
Pengawas
bertanggung jawab atas :
·
Orang yang mengerjakan
·
Bahan yang
dipergunakan
·
Alat yang dipakai
·
Hasil pekerjaan
yang dilakukan
-
Selesai
penyemprotan dilakukan evaluasi hasil kerja yang telah dilaksanakan setiap
harinya sebagai berikut :
·
Selesai disemprot,
areal tersebut diberi patok (ajir) yang ujungnya dicat dengan warna yang
berlainan dengan warna patok hasil penyemprotan hari sebelumnya (kemarin)
·
Pastikan bahwa
hasil kerja hari tersebut sudah sesuai dengan rencana yang dibuat. Apabila
realisasi masih dibawah rencana, perlu dicari penyebabnya.
·
Semua hasil kerja
hari tersebut dipetakan dan diberi warna yang berlainan dengan warna hasil
penyemprotan sebelumnya (kemarin)
·
Data hasil kerja
hari tersebut, dipakai untuk menyusun penyesuaian rencana kerja hari esok.
Begitu seterusnya setiap hari dikerjakan sampai seluruh areal tersemprot.
·
Kemudian dibuat
rekapitulasi hasil kerja yang mencantumkan luas terealisir, jumlah herbisida,
air, tenaga kerja dan sebagainya, disertai peta hasil kerja. (Contoh blangko
pada lampiran)
b.
Pemberantasan Mikania sp
Tujuan memberantas
Mikania sp ialah melindungi tanaman
pokok dari gangguan Mikania sp.
Pemberantasan Mikania sp
harus dilakukan sedini mungkin, karena Mikania
sp termasuk gulma keras (jahat), yang menghasilkan sekresi bersifat racun bagi
tanaman pokok (sifat alelopati). Pemberantasan Mikania sp dilaksanakan secara kimiawi atau manual. Urutan
pekerjaan pemberantasan secara kimiawi sebagai berikut :
(1)
Persiapan dan
Perencanaan
-
Inventarisasi Mikania sp
Dengan membawa
peta kebun, dilakukan survey seluruh areal dan dicatat kondisi Mikania sp yang ada pada areal tersebut.
Kemudian data tersebut dibakukan pada Daftar inventarisasi Mikania sp sekaligus dibuat peta Kondisi Mikania sp (contoh pada lampiran).
Kondisi Mikania sp di lapang diklarifikasikan
sebagai berikut :
·
Sheet = jika Mikania sp menutup areal lebih
60% per hektar
·
Spot = Jika Mikania sp menutup areal kurang 60% per hektar. Dapat merupakan satu kelompok atau terpencar dibeberapa
tempat
·
Sporadis = Jika Mikania
sp tumbuh tersebar disuatu luasan areal tetapi tidak menutup suatu luasan.
-
Alat semprot, yang
digunakan :
·
Alat semprot
punggung tekanan rendah (Solo, Keff, CP dll)
·
Alat semprot
bermesin (power sprayer), khusus untuk sheet, misalnya pada TTAD
- Herbisida yang digunakan dijelaskan
dalam sub bab pestisida dan alat aplikasinya
(2) Pelaksanaan
-
Hal-hal yang perlu
diperhatikan pada saat pelaksaan :
·
Waktu Aplikasi
Herbisida
*
Sebaiknya diaplikasikan
pada saat pertumbuhan vegetatif mekania sp sedang aktif.
*
Hujan yang turun kurang
dari 5 jam setelah penyemprotan akan mengurangi efektitas herbisida karena sebagian herbisida akan
tercuci, sehingga pemberantasan tidak efektif.
*
Sebaliknya pada kondisi
extrim kering jangan menyemprot mikania
sp, karena herbisida tidak dapat ditranslokasikan dengan baik.
*
Penyemprotan dilakukan
pada saat angin dalam keadaan tenang, karena menyemprot dalam keadaan angin
kencang menyebabkan droplet herbisida
tidak terarah.
*
Sebaiknya pemberantasan
mikania sp dilaksanakan pada
menjelang musim kemarau, karena akan lebih efektif.
·
Kalibrasi : Untuk
memperoleh hasil semprotan yang baik, perlu dilakukan kalibrasi. Cara
pelaksanaannya dapat dilihat pada uraian
pestisida dari alat aplikasinya.
·
Cara mencampur
herbisida sama dengan yang dilakukan
dalam memberantas alang – alang.
·
Cara kerja lapang sama dengan yang dilakukan pada saat pemberantasan alang
- alang
·
Penyemprotan koreksi sama dengan yang dilakukan pada penyemprotan koreksi
untuk alang - alang
-
Apabila pertumbuhan mikania sp sudah menutup
areal dan tebalnya 30 cm, sebelum disemprot dibabat dulu, kemudian dibiarkan
tumbuh kembali sampai setinggi 15 cm, baru disemprot dengan herbisida. Tujuan
dibabat selain untuk mengurangi volume air, juga agar aplikasi bisa tepat padasaat
pertumbuhan vegetatif aktif dan untuk memudahkan penyemprotan berjalan.
-
Pada saat membabat mikania sp, harus diusahakan batang
tersebut akan tumbuh sehingga populasi mikania sp semakin banyak. Oleh karena itu pada saat
membabat, batang mikania sp langsung digulung rapat, kemudian diikat kuat
dengan tali (rafia). Selanjutnya dipendam dalam lubang tanah dan ditutup tanah
setebal 25 cm, atau diletakkan diatas para-para yang dibuat khusus untuk itu.
(3) Pengawasan sama dengan pada saat membrantas alang - alang
c.
Buru
alang-alang dan mikania sp
Merupakan
gulma jahat di perkebunan, maka setelah
pemberantasan (penyemprotan) harus dilanjutkan dengan buru alang - alang dan mikania sp. Yang dimaksud ‘ buru’ adalah
memberantas alang- alang dan mikania
sp secara terus menerus, sebab apabila tidak segera diatasi, dalam jangka
tertentu akan menjadi sheet lagi. Metode yang digunakan adalah spot spraying dan wiping untuk
alang-alang, atau spot spraying dan dongkel untuk mekania. Buru alang-alang dan
mekania dilaksanakan 9 X setahun diutamakan pada bulan – bulan basah.
-
Tehnis pelaksanaan buru
alang-alang dan mekania sp secara manual
·
Mikania
sp dicabut dengan pacul garpu sampai seakar-akarnya. Batang mikania sp yang
tercecer dapat segera tumbuh, karena itu harus diupayakan agar batang mekania
tidak tercecer.
·
Mikania
sp yang telah dibabat, dikumpulkan dan dijemur diatas para-para khusus, sampai
kering/busuk dan mati
·
Buru alang-alang secara
manual dikerjakan jika herbisida untuk wiping tidak ada.
-
Tehnis pelaksanakan
buru alang – alang dan
mekania secara kimiawi
·
Jika keadaan
alang-alang atau mikania sp sporadis
ringan, buru alang – alang dapat dilakukan dengan spot spraying dengan
herbisida.
·
Herbisida yang
digunakan untuk alang – alang ialah herbisida
berbahan aktif glyphosate
dengan konsentrasi sesuai petunjuk dalam kemasan.
·
Herbisida yang
digunakan untuk mekania ialah herbisida
berbahan aktif 2.4D
dengan konsentrasi sesuai petunjuk dalam kemasan yang
dilakukan seawal mungkin pada saat pertumbuhan vegetatif.
·
Alat semprot yang
digunakan knapsack tekanan rendah, dengan nosel cone (kerucut).
d.
Penyiangan
Gulma / Pengendalian Gulma ( general weed)
Untuk
gulma umum tidak dilakukan eradikasi tetapi dilakukan pengendalian, yang dapat
melaksanakan dengan dua cara yakni secara kimiawi atau secara mekanis.
(1) Penyiangan
secara kimawi
-
Perencanaan
·
Menentukan areal yang
akan disemprotkn
·
Menyiapkan tenaga
penyemprotan sesuai dengan kebutuhan, berikut tenaga pengawasan
·
Menyiapkan alat, berupa
bak penampungan air atau drum, alat semprot (knap sack takanan rendah, atau
mikro herbi)
·
Menyiapkan bahan berupa
air bersih, herbisida dan perekat atau perata pada saat musim hujan.
-
Pelaksanaan
·
Herbisida yang
digunakan
*
Untuk gulma dominan
berdaun sempit, digunakan herbisida dengan bahan aktif sulphosate atau
glyphotosate, dengan dosis 100 – 1,5 liter per hektar efektif per aplikasi.
*
Untuk gulma dominan
berdaun lebar, digunakan herbisida dengan bahan aktif 2,4 D, dengan dosis 1,5
-2,0 liter per hektar efektif per aplikasi.
·
Cara pencampuran
herbisida:
*
Mencampur herbisida dan
perekat atau perata dengan air hingga merata sesuai konsentrasi atau dosis
hingga merata ditentukan (seperti pencampuran herbisida pada pemberantasan
alang –alang).
*
Tuangkan larutan
tersebut ke dalam alat semprot yang telah disediakan hingga volume larutan
tersebut hampir penuh.
·
Melakukan menyemprotan
pada areal yang ada rumput pengganggunya.
·
Pada saat penyemprotan
diharuskan para pelaksana (penyemprot, pencampur pestisida) memakai alat
pengaman
·
Apabila terjadi hujan
atau gerimis, maka penyemprotan harus dihentikan. Untuk itu perlu
memprediksikan cuaca pada pagi hari (setelah rol).
·
Bila menunjukkan tanda
– tanda akan terjadi hujan sebaiknya tidak dilakukan penyemprotan.
·
Apabila penyemprotan
akan dihentikan, 15 menit sebelum waktu berakhir, alat semprot yang dipakai
harus dibersihkan terlebih dahulu dengan air bersih.
·
Setiap selesai
penyemprotan, alat semprot yang digunakan harus dibersihkan dengan air bersih
·
Cara penyimpanan alat
semprot diuraikan dalam bab VIII. Uraian pestisida dan alat aplikasinya.
-
Pengawasan
·
Mandor dan sinder wajib
mengontrol jalannya dibetulkan pada saat itu juga
·
Mandor mencatat hasil
kerja harinya dan mengawasi pengembalian alat semprot ke gudang afdeling.
-
Persiapan, perencanaan
dan pelaksanaan selengkapnya seperti dalam pemberantasan alang- alang.
(2) Penyiangan secara mekanis
-
Perencanaan
·
Tentukan lokasi dan
luas areal yang akan disiang
·
Siapkan tenaga sesuai
areal tersebut
·
Periksa /pastikan bahwa
alat yang dibawa (sabit,cangkul) sudah tajam (layak pakai)
·
Setiap tenaga kerja
harus membawa batu asah
-
Pelaksanaan
·
Sesuai dengan
perjanjian dan contoh kualitas pekerjaan yang telah disepakati, misalnya jombret, jombret merah,
kesrik pendem dsb.
-
Pengawasan
·
Mandor dan sinder wajib
mengotrol jalannya pekerjaan tersebut, apabila ada yang salah harus dibetulkan
pada saat itu juga.
·
Mandor mencatat hasil
kerja (baik kuantum maupun kualitasnya).
7.
Pengendalian Gulma di Areal Tanaman Tahun Yang Akan
Datang (TTAD)
a.
Pemberantasan
alang – alang
-
Di areal yang relatif
datar, untuk memudahkan penyediaan air / formulasi herbisida dan pengawasan, pada saat
menyemprot, penyemprotan berjajar dengan jarak 2 meter bila menggunakan nozle
biru, dan sebagainya. Dimulai
dengan berjajar dan waktu yang sama, para penyemprotan maju dengan kecepatan
yang sama, sesuai hasil kalibrasi yang telah dilakukan.
-
Agar penyemprot dapat
berjalan lurus kedepan, pada jarak tertentu diberi ajir yang ujunganya diberi
bendera / tanda.
Arah jalan jangan
berlawanan dengan arah angin, tetapi justru harus searah dengan arah angin.
↑ ↑ ↑ ↑ ↑
x x x x x
↑ ↑ ↑ ↑ ↑
x x x x x
↑ ↑ ↑ ↑ ↑
0 0 0 0 0
Gambar. Cara Menyemprot Alang-alang
Keterangan:
0
= penyemprot
berdiri berjajar, jarak penyemprot satu dengan yang lainnya
tergantung nozle yang digunakan
↑ =
arah penyemprot maju kedepan
x =
ajir yang ujungnya diberi bendera
-
Diareal yang berteras,
para penyemprotan berjalan sepanjang terasan. Nozle yang digunakan dipilih yang
lebar semprotnya sesuai denan lebar terasan.
-
Pemberantasan alang
– alang ini diikuti oleh buru atau wiping secara kontinyu
b.
Pemberantasan
mikania sp
-
Pemberantasan mikania Sp diareal
TTAD dilaksanakan secara kimiawi setelah konservasi tanah selesai dikerjakan.
-
Seperti terhadap alang
– alang, setelah selesai pemberantasan dilakukan buru mekania, baik secara
mekanis ataupun kimiawi.
8.
Pengendalian Gulma di Areal Tanaman Tahun Ini (TTI)
a.
Pemberantasan
gulma
jahat (alang – alang dan mikania sp)
-
Sebelum bibit kakao ditanam,
areal harus sudah bebas dari alang – alang dan mikania sp, karena kedua macam gulma tersebut sudah
diberantas pada saat TTAD.
-
Perlakuan terhadap
alang –alang dan mikania sp pada TTI
hanya terbatas pada buru / wiping.
-
Pelaksanaan buru /
wiping sama dengan yang dilakukan pada TTAD.
b.
Penyiangan
-
Sebelum tanaman
kakao ditanam, sepanjang larikan tanaman kakao harus bersih dari gulma
rerumputan maupun tanaman semak.
-
Penyiangan sebelum
menanam kakao, dilakukan secara kimiawi.
-
Penyiangan ini hanya
dilakuakn satu kali. Dikerjakan pada baris tanaman sebagai persiapan tanam.
Menggunakan sprayer tekanan rendah atau micron herbi.
-
Penyiangan setelah
menanam tanaman kakao dilakukan sekali secara manual (kesrik) pada piringan
pohon.
9.
Pengendalian Gulma di Areal Tanaman Belum Menghasilkan
a.
Buru
Alang – alang dan mikania sp
Buru alang – alang dan mikania sp tetap di lakukan secara
rutine kurang lebih sebulan satu kali pada seluruh areal termasuk di gawangan
tanaman rotasi 9 kali setahun ,
dilakukan pada bulan – bulan basah, sedangkan pada musim kemarau tidak di
lakukan , karena pertumbuhan vegetatif jauh berkurang.
b.
Penyiangan
Pada TBM I , Penyiangan
dilakukan secara Manual. Penyiangan
secara Kimiawi tidak dianjurkan karena dikhawatirkan droplet Herbisida akan
mengenai tanaman Kakao yang masih rendah.
Sedangkan pada TBM
II dan III dapat dilakukan pengendalian secara kimiawi. Lahan
yang di siang seluruh Areal dibedakan sbb :
1. Penyiangan
Pada piringan Pohon
·
Dilakukan dengan
menyingkirkan semua jenis tumbuhan
dari permukaan tanah selebar piringan pohon yang telah ditentukan sehingga
tanah bersih (Clean weeding) atau disebut kesrik
·
Rotasi 6 kali setahun,
di utamakan untuk persiapan pemupukan dan setelah pemupukan .
2.
Penyiangan di gawangan
·
Pengendalian Gulma
cukup di lakukan dengan slashing
(Jombret), sehingga akar Gulma tidak tercabut. Rotasi 6 x setahun
Gambar :
Chemical weeding pada tanaman belum menghasilkan
10.
Pengendalian Gulma Pada Areal Tanaman
Menghasilkan
a.
Buruh
alang – alang dan mikania sp
-
Buru alang-alang
dan mikania sp tetap dilakukan secara rutin ± sebulan 1 x, baik pada
gawangan maupun pada larikan tanaman
-
Rotasi ± 9 x
setahun, dilakukan pada bulan-bulan basah, sedang pada musim kemarau tidak
dilakukan karena pertumbuhan vegetatif jauh berkurang
b.
Penyiangan
Penyiangan
pada budidaya kakao hanya dilakukan secara insidentil, terutama pada lahan yang
miring atau “hiatten”. Dilakukan secara kimiawi dan manual
-
Penyiangan secara
kimiawi : Penyiangan kimiawi dilakukan 2
x setahun pada saat tanaman tidak berbunga besar, atau buah muda ukuran < 10
cm sebagai persiapan pemupukan.
-
Penyiangan secara
manual : Penyiangan secara manual
dilakukan 4 x setahun, diutamakan setelah pemupukan.
c.
Picisan / Krakat (Drymoglossum
piloselloides)
-
Picisan / krakat
termasuk tumbuhan golongan paku-pakuan yang epifit, menempel pada batang dan
dahan. Picisan ini menyebabkan kelembaban (RH) yang tinggi sehingga menunjang
perkembangan hama dan penyakit. Tanaman kakao yang batangnya ditumbuhi picisan
daunnya akan menjadi lebih kecil, cepat menguning, dan gugur sebelum waktunya.
Jika picisan tidak diberantas, pohon kakao dapat mati. Rimpang picisan dengan tunas yang lebat dan
perakaran yang melekat erat pada kulit cabang kakao menimbulkan tekanan mekanis
sehingga cabang kakao “tercekik”
-
Penelitian yang
pernah dilakukan di balai Penelitian Perkebunan Bogor, menunjukkan bahwa
terdapat jamur “simbiosis” pada akar picisan yang bersifat parasit, yang diduga
sebagai penyebab kematian tanaman.
-
Pada cabang-cabang
besar kakao, rimpang picisan menutup dan mengganggu bantalan bunga sehingga
bunga mudah gugur atau tidak normal.
-
Selain picisan,
lumut yang menempel pada batang kakao juga menaikkan kelembaban dan menghambat
tumbuhnya bunga.
-
Pemberantasan
picisan dilakukan secara mekanis (manual) sedangkan untuk lumut dapat digunakan
alat sederhana yang tidak melukai bantalan bunga, misalnya dengan sabut kelapa.
-
Waktu pemberantasan
yang paling efektif ialah pada awal musim penghujan, karena :
·
Krakat mudah
ditarik (tidak mudah putus, seperti pada musim kemarau), dan belum sempat
menyebarkan spora
·
Lumut relatif mudah
mengelupas jika “dikerok”. Pemberantasan secara kimiawi sedang diteliti.
-
Perkembangan
pertumbuhan krakat :
·
Sebagai pionir pada
batang dari kakao tumbuh lebih dulu semacam lumut kerak yang merupakan bercak
berwarna keputihan
·
Pada tahap kedua
pada bercak tersebut merupakan media tumbuh bagi sejenis lumut
-
Telah dicoba bahwa
lumut pada batang kakao diberantas dengan bahan kimiawi yang disebut dengan
bubur kaliwining.
-
Pertumbuhan krakat
harus selalu diupayakan seminim mungkin. Karena selain menyebabkan tertekannya
tanaman kakao, populasi krakat yang sudah terlanjur banyak sangat menyulitkan
cara pemberantasannya sehingga ranting tanaman kakao yang ditumbuhi terpaksa
dipotong.
-
Pemberantasan
krakat lebih mudah dilakukan pada tahap awal perkembangan populasi dari pada
mengendalikan pada saat populasi telah melimpah. Dalam pemberantasan krakat dan
benalu diprioritaskan pada areal yang berpotensi tinggi dan keberadaan krakat
dan benalu sesuai klasifikasi berat, sedang dan ringan.
-
Tindakan
pemberantasan yang dianjurkan meliputi :
·
Membersikan koloni
picisan secara manual dengan menggunakan tangan paling baik dilakukan pada awal
musim hujan.
·
Kegiatan
pemberantasan dapat dipadukan dengan kegiatan lain seperti pemangkasan
·
Mencegah tanaman
lain didalam dan disekitar kebun tidak ditumbuhi picisan, misal : penaung
lamtoro.
·
Benalu dibuang
secara dini agar tidak menyebabkan parasit bagi tanaman pokok, pelaksanaannya
dapat dilakukan bersamaan dengan pangkasan
-
Jika keadaan
sudah bersih (bebas dari picisan dan benalu) diperlukan kontrol
keseluruh areal minimal 1 x setahun.